PROBIOTIK +HERBAL

DIBUTUHKAN AGEN UNTUK MENYALURKAN PRODUK KAMI DI SELURUH INDONESIA , AKAN MENDAPTKAN FEE KEAGENAN YANG MENARIK SELAIN AKAN MENDAPATKAN KEUNTUNGAN HARGA ECERAN MARI BERGABUNG DENGAN KAMI APABILA BERMINAT
HUB. HP : 085647310823

Rabu, 12 Januari 2011

TELUR AYAM HERBAL (TELUR AYAM ARAB)


TELUR AYAM HERBAL

(TELUR AYAM ARAB)

Ayam Arab merupakan hasil keturunan ayam Brakel Kriel-Silver Belgia, disebut Ayam Arab, karena penampilannya yang dikaitkan dengan gadis berkerudung, ya Ayam Arab mempunyai “Kerudung” berwarna putih di Bagian belakang lehernya , kerudung ini makn kentara pada ayam jantan karena terlihat berjuntai panjang , juga karena pejantannya memiliki daya seksual yang tinggi dan keberadaannya di Indonesia melalui telurnya yang dibawa oleh orang yang menunaikan ibadah haji dari Mekkah.Beternak Ayan Arab sangat menguntungkan karena produksi telurnya tinggi mencapai 190 – 250 butir telur /per ekor/per tahun, dengan berat maksimal telur mencapai 42,3 gram /butir.Ayam Arab termasuk tipe ayam kecil sehingga konsumsi pakan relative lebih sedikit sehingga lebih efisien.

Sementara untuk telurnya sendiri memiliki keunggulan dibandingkan telur ayam leghorn (ayam Ras).Telur Herbal/Ayam Arab bentuk dan ukurannya mirip seperti telur ayam kampung, namun dilihat isinya, kuning telurnya, lebih besar volumenya mencapai 53,2% dari total berat telur dan tidak anyir dan kuning telurnya sangat manis meskipun mentah.

MANFAAT,telur herbal/ayam arab, merupakan telur ayam non kolesterol yang kandungan Omega 3 nya tinggi, tentu sangat berguna membantu meningkatkan kecerdasan anak dan meningkatkan stamina tubuh bagi orang dewasa.

Nah, ingin beralih mengkonsumsi telur yang lebih sehat dan berkhasiat silahkan menghubungi di nomor HP :085647310823, email : ulung.satrianaga@gmail.com.

Minggu, 09 Januari 2011

Konsultan Kewirausahaan dan Bisnis UMKM: PROBIOTIK +HERBAL UNTUK AYAM PETELUR

Konsultan Kewirausahaan dan Bisnis UMKM: PROBIOTIK +HERBAL UNTUK AYAM PETELUR

Terkait dengan Assa Bio Plus Klik disini

PROBIOTIK +HERBAL UNTUK AYAM PETELUR


ASSA BIO PLUS

Untuk Ayam Petelur

PENDAHULUAN

Faktor utama terciptanya udara yang bersih dan sehat di kandang adalah rendahnya kadar gas yang merugikan di kandang.

Diantaranya :

1. Nh 3 (Amoniak) sumbernya bakteri yang mati, kotoran dan air seni, jika melebihi batas (≥30 ppm atau 21 mg/m3 udara) akan berpengaruh pada ganguan pertumbuhan, konversi pakan meningkat, gelembung dada, radang mata, ganguan pernafasan, ph darah naik, kemampuan oksidasi menurun, pernafasan dan sirkulasi darah tertekan, reabsorsi paru-paru.

2. H2S.Sumbernya kotoran dan air seni, batas ambangnya ≥5 ppm atau 7 mg/m3 udara.Pengaruhnya udara sangat beracun, peradangan pada mucosa alat pernafasan.

3. CO2. Sumbernya hasil pernafasan ayam dan mikro organism di letter kandang batas ambangnya ≥3500 ppm atau 6,430 mg/m3 udara.Pengaruhnya gangguan pertukaran zat,gangguan aktifitas.Jika dalam udara mencapai 5% lebih gas CO2 bisa menimbulkan resistensi penyakit karena ayamnya lemah, pernafasan terganggu, kotoran basah, ph darah turun dan ayam hanya mampu bertahan hidup.

Tentunya gas-gas merugikan itu akan berkurang kadarnya sesuai dengan standart kesehatan kandang.Dengan menambahkan Assa Bio plus 0,25 gr – 0,50 gr per ekor kebutuhan pakan secara terus-menerus maka kotoran tidak berbau dan cepat kering, secara otomatis gas-gas yang merugikan itu bisa ditekan kadarnya, sehingga kandang akan menjadi bersih dan sehat.

SYARAT POKOK

Syarat pokok beternak ayam petelur adalah ketersediaam pakan dan pemeliharaan kandang, selain ketersediaan DOC dankandang itu sendiri.Pemakian Assa Bio Plus bisa memberi nilai tambah karena konversi pakan bias ditekan 5- 10%.Dengan kandungannya yang merupakan mikroba pengurai (Lignoletic,protelitic,lipolitic, cellulitic,amilolitic dan nitrogen fiksasi non symbiotic).Assa Bio Plus mampu menguraikan makanan secara sempurna.

Sehingga 95 % sari-sari makan bisa diserap oleh tubuh ayam.Hasilnya dengan memberi ransum standart ( 120 gr) pada ayam produksi.Kebutuhan unsure-unsur makanan (protein,vitamin, mineral, dsb) akan naik 5- 10% atau setara jika kita menaikkan 6-12 gr ransum per ekor.Hanya dengan menambahkan Assa Bio Plus 0,25 gr – 0,50 gr per 120 gr ransum ayam produksi, sebab semua sari-sari makanan (protein,vitamin,mineral dsb) akan naik 5-10% setara jika menaikkan 6- 12 gr ransum pakan per ekor,karena dengan Assa Bio Plus sari-sari makanan terproses dan mampu terserap oleh tubuh ayam . Hal ini bias dilihat dari feces ayam, kotoran yang tidak berbau dan cenderung cepat kering disbanding dengan feces ayam yang tidak memakai Assa Bio Plus. Sedangkan data yang nyata pada penekanan konversi pakan .Setelah 2 -3 bulan pemakaian telur yang dihasilkan akan mengalami penmbahan berat setara besarnya penekanan terhadap konversi ransum itu sendiri. Pembiayaan pemeliharaan kandang bias dilihat dari aspek positif pemakaian Assa Bio Plus secara terus-menerus, jika kotoran kering secara otomatis tidak akan mengundang lalat dan siklus perkembangbiakan cacing pun bisa ditekan,sehingga biaya-biaya kerugian yang ditimbulkan tidak perlu terjadi.Manfaat secara ekonomis yang lain feces yang tidak berbau sangat laku untuk dijual karena termasuk jenis kotoran yang berkualitas dan mudah untuk diambil dari kandang.

VAKSINASI

Terbentuknya system kekebalan tubuh ayam terhadap penyakit sangat tergantung pada program vaksinasi dan program revaks (vaksin ulang).Keberhasilan program vaksinasi dan revaks juga sangat ditentukan oleh kesehatan ayam dan kebersihan kandang .Hal ini juga tidak bias lepas dari keberhasilan dalam pemeliharaan kandang.

Assa Bio Plus memberikan peranan penting melalui fungsi sederhananya yang membuat kotoran-kotoran kering dan tidak berbau.Berawal dari pengendalian kotoran inilah semua kerugian-kerugian yang ditimbulkan bisa dihindari.Pemakaian sejak awal (DOC datang) akan sangat membantu bagi keberhasilan program vaksinasi.

DOSIS

· 2,5 Kg Assa Bio Plus dicampur 1 ton pakan.

· 1 Kg Assa Bio Plus dicampur 400 Kg pakan.

HARGA :

· Kemasan Kiloan (Kg) harga Rp 12.500,- /Kg.

· Kemasan Zak (25 Kg) harga Rp 275.000,- /Zak

· Kemasan Cair (Botol) harga Rp 15.500/Botol

Terkait dengan Produk Assa Bio Plus, Klik disini

PRODUK – PRODUK FEED SUPLEMEN DAN PROBIOTIK + HERBAL UNTUK SEMUA JENIS PETERNAKAN DAN PERIKANAN BUDI DAYA



Assa Bio Plus untuk Ayam, manfaat nya :

1. Menghilangkan bau kotoran.

2. Mengatur keasaman dalam sistem pencernaan.

3. Menyerap logam-logam berat dan gas-gas beracun serta senyawa toksin lainnya yang berbahaya.

4. Dengan sifat urainya yang luar biasa, sehingga daya cerna lebih sempurna.

5. Menekan konversi pakan.

6. Meningkatkan produksi telur dan memperpanjang masa produksi.

7. Mencegah flu burung karena terbentuknya antibodi yang sangat kuat.

Dosis pemakaian :


2,5 Kg Assa Bio plus dicampur 1 ton pakan.

·1 Kg Assa Bio plus dicampur 400 Kg pakan.

Assa Bio Plus untuk Sapi, manfaatnya :

1. Menghilangkan bau kotoran.

2. Mencegah timbulnya penyakit.

3. Peningkatan kwalitas.

4. Menekan konversi pakan.

5. Meningkatkan berat badan dan soliditas daging.

6. Pengurangan bakteri pathogen sehingga lebih memperpanjang usia produktif.

Dosis pemakian :

1 Kg Assa Bio plus dicampur dengan 200 Kg concentrat.

Pencampuran bisa dilakukan dalam keadaan basah maupun kering.

Assa Bio Plus untuk Ikan, manfaatnya :

1. Mempercepat pertumbuhan ikan.

2. Menyuburkan Plankton dan Zooplankton (makanan alami ikan )

3. Menyembuhkan jamur pada ikan yang disebabkan oleh kotoran ikan dan air hujan.

4. Menetralkan PH air.

5. Menekan konversi pakan ikan.

6. Menurunkan angka kematian.

Dosis pemakaian :

· 1 Kg AssaBio plus unuk 6 - 100 m2 , kolam ditabur merata.

·1 Kg AssaBio plus dicampur dengan 200 Kg pakan.

Assa Premix plus, manfaatnya :

1. Mempertinggi produksi telur.

2. Memperbaiki kwalitas telur ,Cangkang akan lebih tebel.

3. Mencegah segala penyakit,seperti kekurangankalsium, lumpuh , tulang bengkak dll.

4. Menekan konversi pakan

Dosis Pemakaian:

·1 Kg Assa Premix dicampur dengan 300 kg pakan.

Ulung Koeshendratmoko.

HP :085647310823

Kamis, 13 Mei 2010

Konsultan Kewirausahaan dan Bisnis UMKM: KUNJUNGAN BISNIS (ROAD SHOW)

Konsultan Kewirausahaan dan Bisnis UMKM: KUNJUNGAN BISNIS (ROAD SHOW)

KUNJUNGAN BISNIS (ROAD SHOW)



Pada hari Rabu tanggal 12 Mei 2010 ,Bank Indonesia Solo, Bappeda Kota Surakarta, Perbankan Kota Solo dan Asosiasi Konsultan Keuangan Mitra Bank melakukan kegiatan kunjungan Bisnis.Maksud dan tujuan kegiatan ini adalah untuk mendorong fungsi intermediasi perbankan ke sektor riil UMKM, dan menggalang kedekatan antara petugas perbankan dan Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) maupun antara perbankan dan KKMB dengan stakeholder.
Sentra UMKM yang menjadi tujuan kunjungan antara lain adalah : klaster usaha kerajinan sangkar burung, sentra usaha kerajinan recycle paper, dan klaster batik Laweyan.
Dalam kata sabutannya Bapak Suryono Deputi Pemimpin Kantor Bank Indonesia Solo mengatakan bahwa perbankan dan dunia usaha adalah merupakan simbiosis mutualisme , saling membutuhkan dan saling memberikan manfaat untuk itu perlu ada mediasi guna menjadi fasilitator untuk mengurangi kesenjangan, maka peran KKMB sangat dibutuhkan lebih lanjut dikatakannya bahwa peran KKMB tidak hanya sebagai penghubung perbankan dengan UMKM saja lebih dari itu KKMB mempunyai peran yang sangat strategis untuk mengembangkan UMKM dalam artian yang lebih luas.

Sabtu, 26 Desember 2009

ETIKA BISNIS


"Ethical is what my feeling tell me is right"
Jika mengacu pada pendapat Baumhart di atas, perilaku etik itu tidak mempunyai standart yang jelas, tergantung tiap individu.Hal inilah yang membuat orang merasa berperilaku etik karena sudah sesuai dengan feelingmereka (kebenaran pribadi) padahal menurut kebenaran umum ini tidak atau kurang bisa .
Pandangan lain mengenai konsep etika bisnis yaitu konsep right and justice .Menurut Clarence Walton, etika melibatkan analisa kritis mengenai tindakan manusia untuk menentukan suatu nilai "benar" dan "salah" dari segi kebenaran dan keadilan.Dalam kehidupan bermasyarakat sudah jelas bahwa mencuri itu tindakan yang tidak baiksecara etika dan moral, tetapi apabila skope kejadiannya dipersempit seringkali kita mengabaikan norma-norma yang ada seperti menganggap wajar jika seseorang mengambil kertas, pensil dan hal-hal kecil dari tempat kerja.
Etika dan nilai berhubungan erat.Nilai adalah sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakekatnya, disini diklasifikasikan menjadi :
  1. Nilai Hayati, adalah nilai suatu manusia sebagai subyek vital biologis, misal nilai air, udara.
  2. Nilai Kenikmatan, adalah nilai untuk manusia sebagai subyek vital sensitive, misal rasa enak.
  3. Nilai Keindahan, adalah nilai untuk manusia sebagai subyek indra jiwa, misal keindahan.
  4. Nilai Etik/moral/susila, adalah nilai untuk manusia sebagai pribadi utuh, misal kejujuran.
Nilai-Nilai etik apabila dilaksanakan akan menyempurnakan hakekat manusia seutuhnya , sedangkan nilai-nilai lain hanya menyempurnakan aspek-aspek tertentu saja dari hakekat manusia.
Suatu nilai akan membentuk suatu etika. Oleh karena itu sangat penting untuk memahami bahwa banyaknya perbedaan bentuk nilai akan mempengaruhi manajer-manajer.Nilai-nilai manajer dengan mempertimbangkan pengaruh-pengaruh ekonomiyang akan membentuknya atau mempengaruhi seorang manajer yang datangnya dari luar atau dalamorganisasi.George Stainer mengemukakan setiap profesional adalah pusat dari sebuah jaringan nilai dan dari nilai-nilai yang mempengaruhi orang-orang bisnis, ada lima tempat penyimpanan , yaitu :
  1. Agama, adalah sumber dasar moral bagi masyarakat dimana di dalam agama diajarkan tentang kejujuran,konsep keadilan dan martabat-martabat individu.
  2. Philosophy, Beragam sistem philosophy sangat mempengaruhi nilai-nilai dari para manajer.
  3. Budaya, yang merupakan perpaduan secara luas dari norma-norma sosial dan nilai-nilai yang berasal dari kehidupan sehari hari juga mempunyai pengaruh pada pikiran manajer.
  4. Perangkat hukum,Hukum bias dikatakan mewakili etika minimum dari pelaku tetapi tidak mencakup seluruh standar etika dari pelaku dan hukum mewakili penyusunan apa yang masyarakat pertimbangkan sebagai baik dan salah.
  5. Nilai-nilai profesional, timbul dari organisasi-organisasi profesional dan masyarakat yang mewakili beragam jabatan dan posisi.
Ketika banyak hujatan bahwa pelaku bisnis sekarang ini (dahulu juga) tidak ada atau sedikit yang masih mempertimbangkan etika dalam berbisnis, semua saling tuding dan saling mengakui bahwa dirinyalah yang paling beretika . Ke lima hal tersebut diatas rasanya sudah didapatkan, kecuali hukum yang belum banyak menyentuh faktor etika dalam berbisnis.
Ada sebuah riset yang menemukan bahwa ada hierarki dari penggambaran nilai-nilai pribadi dan gaya hidup, yang dididentifikasi sebagai berikut :
  1. Reaktif
  2. Tribalistik
  3. Egosentris
  4. Conforming
  5. Manipulatif
  6. Sosiosentris
  7. Eksistensi
Dari uraian diatas, sebenarnya etika bisnis adalah studi khusus mengenai moral yang benar dan salah, terutama standar moral yang diterapkan untuk kebijaksanaan bisnis, lembaga dan perilaku yang berhubungan dengan Stakeholders, misalnya tentang :
  1. Bisnis dan masyarakat.
  2. Kontrak karya dan pengupahan
  3. Konflik kepentingan
  4. Bisnis dan konsumen
  5. Pengendalian polusi
  6. Kebijaksanaan sosial perusahaan
  7. Bisnis dan pemerintah
Oleh karena itu dalam melaksanakan bisnis kita tidak hanya mengharapkan profit, namun etika dalamberbisnis kita harus perhatikan dan laksanakan agar bisnis tetap langgeng.

Notes : Bacaan terkait klik disini

Jumat, 25 Desember 2009

Konsultan Kewirausahaan dan Bisnis UMKM: ETIKET DAN PENAMPILAN

DuniaPustaka.Com
CARI ILMU ONLINE BORNEO

ETIKET DAN PENAMPILAN

ETIKA , sama artinya dengan Moral, yang berarti adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk.
ETIKET, berkaitan dengan nilai sopan santun, tata krama dalam pergaulan formal. Artinya, pedoman atau norma tertentu yang mengatur bagaimana seharusnya seseorang itu melakukan perbuatan dan tidak melakukan sesuatu perbuatan.
Dasar-Dasar Etiket :
  • Sopan,ramah kepada siapa saja.
  • Memberi perhatian kepada orang lain.
  • Ingin membantu.
  • Memiliki rasa toleransi.
  • Dapat mengusai diri.
  • Mengendalikan emosi dalam setiap situasi
Secara singkat "selalu berusaha untuk menyenangkan orang lain" (Always wants to please somebody)
Manfaat Etiket dalam kehidupan manusia :
  1. Membuat seseorang disegani, dihormati, disenangi orang lain.
  2. Kemudahan dalam berhubungan baik dengan orang lain.
  3. Memberi keyakinan pada diri sendiri dalam setiap situasi.
  4. Dapat memelihara suasana pada diri sendiri dalam setiap situasi.
  5. Dapat memelihara suasana yang baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, antar teman.
Dasar dari peraturan etiket adalah adat-istiadat/tradisi dari daerah atau negara tertentu yang kadang-kadang berbeda dan bertentangan , seperti : cara bersalaman, cara menatap mata sewaktu berjabat tangan, waktu memberi sambutan, waktu menerima sesuatu, dll.
PENAMPILAN
Penampilan merupakan bentuk pernyataan diri.Bagaimana kita memandang dan memperlakukan diri sendiri akan tercermin ketika orang lain menilai kita.Penampilan yang baik pasti akan memancarkan gekombang sukses yang timbal balik.
Penampilan dapat bebentuk verbal, apabila ditampilkan dalam bentuk suara dan dapat berbentuk non verbal melalui ujud diri dan sosok individu secara lahiriah.
Usaha pertama dalam mengubah "penampilan"anda :
  1. Sikap , meliputi : cara berdiri, cara berjalan, cara duduk, cara berbicara, cara gerak tangan.Mengenai hal sikap penting sekali, karena dapat memberi kesan, seperti misalnya:bersahabat,sombong, malu, rendah hati, kekanak-kanakan,berwibawa, malas, sopan dll.
  2. Ekspresi muka dengan disertai pandangan mata dan sikap kepala.
  3. Kesehatan, meliputi :makan dan tidur secara teratur, jangan terlalu tegang atau lelah,olah raga atau senam menurut kekuatan masing-masing, pandangan hidup dan optimis.
  4. Kebersihan dan kerapihan, meliputi : Badan , kuku dan sepatu
NOTES:
Bacaan terkait silahkan Klik disini


Kamis, 24 September 2009

POTENSI BISNIS DI INTERNET


POTENSI BISNIS DI INTERNET


Perkembangan teknologi yang semakin cepat memungkinkan munculnya cara-cara orang untuk melakukan kegiatan bisnis dengan menggunakan teknologi ini yaitu teknologi internet.Bila dibandingkan dengan cara-cara konvensiaonal ternyata internet menawarkan keuntungan yang luar biasa , seorang mahasiswa yang memiliki website bisa mempunyai kekayaan sampai 13 juta $ hanya dalam waktu 3 tahun saja,lihat saja situs www.facebook.com yang dimiliki oleh seorang mahasiswa , apalagi raksasa search engine terbesar didunia google yang kekayaannya bisa melebihi kekayaan sebuah negara.

Keuntungan-Keuntungan menjalankan Bisnis di Internet :

  1. Target Pasar yang Besar

Berbisnis di dunia maya sangat menguntungkan untuk semua orang karena mempunyai pasar yang tidak mengenal batas Negara dan budaya, target pasar nya adalah dunia, yang dibatasi oleh waktu dan jarak, yang penting bisa bisa terkoneksi dng internet itu Pasar yang luar biasa.Jumlah yang terkoneksi dengan internet semakin hari semakin besar, diperkirakan 5 tahun kedepan hampir semua orang akan terkoneksi ke internet, di Indonesia pertumbuhan pengguna internet mengalami pertumbuhan 600% pertahunya, pertumbuhan pangsa pasar yang luar biasa besarnya.

2. Fleksibilitas yang tinggi

Melakukan kegiatan bisnis dengan internet mempunyai dimensi ruang dan waktu yang tidak terbatas , walaupun Anda tidur uang tetap mengalir ke kantong anda, bisa bekerja kapan saja yang kita mau, pasar kita tidak pernah tutup,ibarat toko yang buka 24 jam penuh dan pengunjung anda juga 24 jam penuh tidak pernah berhenti.

3. Tidak perlu Modal Besar

Kebanyakan bisnis memerlukan modal yang besar, dan rata-rata orang kalau mau memulai bisnis pasti yang dikeluhkan pertama kali adalah modal.Internet menawarkan bisnis yang tidak memerlukan modal , kalaupun pakai modal relatif modalnya tidak terlalu besar.Bahkan kalau kita tidak punya produk untuk dijual internet pun menyediakan pruduk untuk Anda ,dan yang perlu diingat potensi pendapatannya juga tidak kalah dengan model bisnis secara konvensional, bahkan dibanyak kasus bisa mengalahkan bisnis konvensional.

Model-model bisnis apa saja yang ditawarkan oleh bisnis melalui internet , secara umum ada 4 model bisnis :

  1. Bisnis Affiliate

Dalam bisnis ini kita menjual produk orang lain, bisnis ini sangat cocok untuk anda yang tidak mempunyai produk yang ingin dijual.Merupakan model bisnis yang modalnya nol, dari penjualan yang dihasilkan bisa mendapatkan komisi yang besarnya berkisar antara 4% s/d 60% dari harga produk tersebut, tentunya jika produk tersebut ada yang membelinya/memakainya.Produk yang dijual mulai e-book, software program sampai perhisan, beberapa situs yang terkenal dengan program ini misalnya seperti amazon dan clikbank untuk yang internasional, untuk yang lokal misalnya suryapromo dimana menjual software pasang iklan secara simultan ke pemasang iklan gratis di internet yang alamatn situsnya

http://www.suryapromo.com/barokah_hidayah

Kuncinya adalah ikuti program affiliate yang situsnya sudah mempunyai reputasi dan pengunjung yang ramai, karena disanalah uang berada.

2. Bisnis Reseler

Model ini hampir sama dengan model bisnis affiliate, hanya saja pada model ini mengharuskan agar kita bisa menjual sebuah atau lebih produk dari situs tersebut, maka kita harus bergabung terlebih dahulu dengan perusahaan situs tersebut, biasanya dengan membeli produk mereka. Rata-rata mereka menawarkan komisi 20% sampai 50%. Salah satu situs lokal yang menawarkan bisnis ini adalah www.online-bisnis.com dari produk yang ditawarkan komisi yang didapat 50%, dan ada lagi salah satu situs yang menawarkan Software "Mesin Uang " alamat situsnya http://www.barokahbisnis.net/ , bisa dijadikan salah satu pertimbangan untuk Anda mengikutinya.

3. Menjual Produk Sendiri

Apabila anda mempunyai keahlian atau mempunyai produk yang unik, Anda bisa menawarkannya melalui internet, bentuknya bisa dengan buku elektronik (e-book) atau dalam bentuk alat.

4. Publisher

Model bisnis ini dengan membuat sebuah situs/blog yang berisi informasi yang unik dan orang membutuhkan, anda bisa mendaftar Blog / situs Anda ke beberap perusahaan Advertising online, salah satunya google dan ada yang lain yaitu Auction ads, Bidvertiser dll. Sistemnya Anda menaruhkan link iklannya ke situs /Blog Anda, kalau ada orang yang berkunjung ke situs Anda dan mereka meng klik link iklan tadi maka anda akan mendapatkan uang dari proses tadi.

Kalau anda sudah mengetahui prinsip dan model-model bisnis di internet, anda juga perlu mengetahui bagaimana sikap yang benar jika ingin terjun dalam bisnis internet.Tanpa sikap yang benar Anda tidak dapat merasakan bisnis online ini.Dalam menjalankan bisnis apakah itu di internet /online maupun di offline diperlukan sikap dan perilaku yang baik agar supaya bisnisnya berkembang dengan cepat, sikap dan perilaku yang bagaimana agar sukses dalam berbisnis di internet? Mind Set itu adalah sebagai berikut :

  1. Profesional

Dalam memperlakukan bisnis online ini sama dengan bisnis offline , bahwa ini sebuah perusahaan yang besar dan perlu dikelola secara profesional , gunakan sistem dan kaidah Manajemen Bisnis Profesional.

2. Fokus

Banyak yang gagal dalm melakukan bisnis karena mereka tidak fokus , pilih salah satu model bisnis online jika sudah berhasil baru mencoba model bisnis yang lainnya.

3. Jujur

Jangan sekali-kali berbuat curang, karena sekali berbuat curang maka bisnis anda di internet akan tidak lama, karena bisnis online saling terhubung satu sama lainnya.Kejujuran adalah modal yang utama diatas modal lainnya.

4. Pantang Menyerah

Dalam bisnis online walaupun kelihatannya mudah , bukan berarti semuanya akan berjalan lancar tanpa hambatan.Apabila muncul hambatan gagal misalnya atau kesulitan lainnya jangan langsung menyerah , cari mentor yang bisa membantu anda karena pada saat Anda menyerah, maka selesailah cita-cita anda untuk menjadi orang kaya.

Kamis, 29 Januari 2009


TEMU BISNIS INDUSTRI "BEBEK"
Oleh : Ulung Koeshendratmoko


Pada hari rabu tgl 28 Januari 2009 bertempat di ruang sidang Bank Indonesia ada pertemuan penting , yaitu temu bisnis tentang industri "bebek".Pertemuan itu difasilitasi oleh Kantor Bank Indonesia Solo yang dihadiri oleh para petani bebek se Solo Raya, para pimpinan Bank Umum dan Perbalindo Solo Raya dan juga Ass KKMB kota Solo. Pada presentasi yang disampaikan oleh Bapak Nurdiana dari PT.Tanjung Agroindustri Indonesia perlunya merubah Mind Set para peternak "bebek" ini karena kalau hanya menjual "bebek" dalam keadaan "hidup" maka peternak itu akan selalu berteriak bahwa mereka rugi.Menurut President Director PT.Tanjung Agroindustri Indonesia ini bahwa perlu dibentuk satu kelompok industri (atau lebih tepatnya Koperasi) sehingga disitu bisa terciptanya suatu industri dari hulu sampai hilir, karena dari peternak ini akan muncul unit-unit bisnis yang akan memunculkan peluang bisnis baru, dan yang lebih penting lagi pak Nur ini siap memberikan pelatihan dan trik-trik bagaimana dari seekor "bebek" ini bisa jadi "diut" dan untung. Disampaikan juga bahwa wadah ini nanti perlu pendamping-pendamping dari para lulusan Perguruan Tinggi yang masih "fresh" untuk mau dijadikan "konsultan " di bidang Agroindustri.
Suatu peluang usaha telah muncul dan akan muncul juga peluang kerja baru bagi siapapun yang mau bekerja keras , kebutuhan "bebek" secara nasional masih kurang dengan pasokan yang ada sekarang ."Bebek" perlu diolah lebih "kreatif" dan Inovatif sehingga akan memberikan nilai tambah .Nilai tambah inilah yang dijual, nilai tambah inilah yang akan menjadi peluang bisnis baru pada sektor industri "bebek".
Bagi yang tertarik dengan peluang bisnis "bebek" bisa menghubungi kami melalui e-mail maupun Blog kami .

Selasa, 20 Januari 2009


BISNIS UKM BERBASIS SYARIAH
Oleh :Ulung Koeshendratmoko



Usaha Kecil Menengah (UKM ),usaha mikro,usaha pemula bertebaran diseluruh Indonesia dengan perkiraan jumlahnya sekitar 40 juta unit.Keberadaan mereka harus kita akui sebagai salah satupenopang ekonomi Indonesia yang belum beranjak maju,terutama pedesaan yang jauh dari sentuhan fasilitas-fasilitas yang layak untuk berkembangnya bisnis,seperti system telekomunikasi dan informasi ,sarana pendidikan,listrik,transportasi, pelabuhan , bank dan lain-lain.Tapi itu semua adalah sarana fisik yang tidak kalah pentingnya adalah system yang mengatur keberadaan system bisnis UKM .Bisnis adalah kegiatan transaksi yang saling membutuhkan dan menguntungan , jadi bisnis rohnya adalah transaksi.Dalam segenap aspek kehidupan bisnis dan transaksi, dunia Islam mempunyai sistemperekonomian yang berbasiskan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Syariah yang bersumberdari Al Quran dan Al Hadits serta dilengkapi dengan Al Ijma dan Al Qiyas. Sistemperekonomian Islam, saat ini lebih dikenal dengan istilah Sistem Ekonomi Syariah.Al Quran mengatur kegiatan bisnis bagi orang-perorang dan kegiatan ekonomi secaramakro bagi seluruh umat di dunia tidak terkecuali bisnis UKM secara eksplisit dengan banyaknya instruksi yangsangat detail tentang hal yang dibolehkan dan tidak dibolehkan dalam menjalankanpraktek-praktek sosial-ekonomi. Para ahli yang meneliti tentang hal-hal yang adadalam Al Quran mengakui bahwa praktek perundang-undangan Al Quran selalu berhubungandengan transaksi. Hal ini, menandakan bahwa betapa aktivitas ekonomi itu sangatpenting menurut Al Quran.Ekonomi Syariah menganut faham Ekonomi Keseimbangan, sesuai dengan pandangan Islam,yakni bahwa hak individu dan masyarakat diletakkan dalam neraca keseimbangan yangadil tentang dunia dan akhirat, jiwa dan raga, akal dan hati, perumpamaan dankenyataan, iman dan kekuasaan. Ekonomi Keseimbangan merupakan faham ekonomi yangmoderat tidak menzalimi masyarakat, khususnya kaum lemah (kita tahu bahwa pelaku bisnisUKM paling banyak adalah kaum lemah atau bermodalkan tekad dan kemauan saja dan hanya sedikit bermodalkan uang ) sebagaimana yang terjadipada masyarakat kapitalis. Di samping itu, Islam juga tidak menzalimi hak individusebagaimana yang dilakukan oleh kaum sosialis, tetapi Islam mengakui hak individudan masyarakat.Mengembangkan bisnis UKM adalah merupakan keharusan karena bisnis UKM adalah bisnis berbasis kerakyatan ,yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mengembangkan bisnis UKM yang berbasis keseimbangan? Kenepa mesti berbasis keseimbangan menurut pandangan Dr Muhammad Yunus (peraih hadiah nobel 2006 asal Bangladesh) bahwa system ekonomi kapitalistidak akan menyelematkan manusia dari ancaman kemiskinan,system kapitalis tidak bisa diharapkan untuk menciptakan dunia yang makmur karena system kapitalis menganut system Profit Maximazing business (PMB).Dalam system ini manusia menjadi money machine (mesin uang).Dalam system kapitalis tujuan bisnis adalah mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya tidak peduli walaupun mengorbankan naluri atau harkat manusia.Sistem kapitalis dianggap sudah gagal dalam rangka membawa manusia dalam tingkat kesejahteraan dan kemakmuran yang ada adalah kemelaratan dan kesengsaraan dimana-mana ( The United Nations Human Development Report menyajikan data bahwa jumlah orang miskin yang hidupnya kurang dari US$ 1 sehari meningkat dari 1.197 milyar jiwa pada tahun 1987 menjadi 1.214 milyar jiwa pada tahun 1997 (20% dari penduduk dunia),terjadi kesenjangan pendapatan antara 1/5 penduduk dunia di Negara-negara kaya dengan 1/5 penduduk di Negara-negara termiskin meningkat 2 kali lipat ) Kegiatan bisnis UKMsebagai bagian dari Sistem Ekonomi Syariah, dalammenjalankan bisnis dan usahanya juga tidak terlepas dari saringan Syariah. Olehkarena itu, kegiatan bisnis UKM tidak akan mungkin melakukan usaha-usaha yangdi dalamnya terkandung hal-hal yang diharamkan, proyek yang menimbulkan kemudharatanbagi masyarakat luas, berkaitan dengan perbuatan mesum/ asusila, perjudian,peredaran narkoba, senjata illegal, serta proyek-proyek yang dapat merugikansyiar Islam. Untuk itu dalam struktur organisasi Bisnis UKMterdapat Dewan Pengawas Syariah yang bertugas mengawasi produk dan operasionallembaga tersebut.Dalam operasionalnya, Bisnis UKMberada dalam koridor-koridorprinsip-prinsip:1. Keadilan, yakni berbagi keuntungan atas dasar penjualan riil sesuai kontribusidan resiko masing-masing pihak;2. Kemitraan, yang berarti posisi masyarakat konsumen, dan produsen sejajar sebagai mitra bisnis yang salingmembutuhkan. 3. Transparansi, produsen dalam menetapkan harga berlandaskan pada nilai kewajaran dan kualitas yang ditawarkan adalah sesuai dengan janji dan harga yang ditetapkan.4. Universal, yang artinya tidak membedakan suku, agama, ras, dan golongan dalammasyarakat sesuai dengan prinsip Islam sebagai rahmatan lil alamin
Dalam kegiatan bisnis UKM tidak lepas dari sistem keuangan karena bagaimanapun antara pasar uang dan pasar riil saling terkait dan saling membutuhkan.(akan terjadi transaksi baik sebagai penabung maupun sebagai yang membutuhkan dana untuk mengembangkan bisnis UKM)Bisnis UKM yang bergerak dalam pembiayaan dalam setiap transaksi kredit tidak mengenal bunga, baik dalammenghimpun tabungan investasi masyarakat ataupun dalam pembiayaan bagi dunia usahayang membutuhkannya. Menurut Dr. M. Umer Chapra , penghapusan bunga akanmenghilangkan sumber ketidakadilan antara penyedia dana dan pengusaha. Keuntungantotal pada modal akan dibagi di antara kedua pihak menurut keadilan. Pihak penyediadana tidak akan dijamin dengan laju keuntungan di depan meskipun bisnis itu ternyatatidak menguntungkan. Sistem bunga akan merugikan penghimpunan modal, baik suku bunga tersebut tinggimaupun rendah. Suku bunga yang tinggi akan menghukum pengusaha sehingga akanmenghambat investasi dan formasi modal yang pada akhirnya akan menimbulkan penurunandalam produktivitas dan kesempatan kerja serta laju pertumbuhan yang rendah. Sukubunga yang rendah akan menghukum para penabung dan menimbulkan ketidakmerataanpendapatan dan kekayaan, karena suku bunga yang rendah akan mengurangi rasiotabungan kotor, merangsang pengeluaran konsumtif sehingga akan menimbulkan tekananinflasioner, serta mendorong investasi yang tidak produktif dan spekulatif yang padaakhirnya akan menciptakan kelangkaan modal dan menurunnya kualitas investasi.Ciri-ciri sebuah Lembaga Keuangan Syariah dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut:1. Dalam menerima titipan dan investasi, Lembaga KeuanganSyariah harus sesuai denganfatwa Dewan Pengawas Syariah;2. Hubungan antara investor (penyimpan dana), pengguna dana, dan Lembaga KeuanganSyariah sebagai intermediary institution, berdasarkan kemitraan, bukan hubungandebitur-kreditur;3. Bisnis Lembaga Keuangan Syariah bukan hanya berdasarkan profit oriented, tetapijuga falah oriented, yakni kemakmuran di dunia dan kebahagiaan di akhirat;4. Konsep yang digunakan dalam transaksi Lembaga Syariah berdasarkan prinsipkemitraan bagi hasil, jual beli atau sewa menyewa guna transaksi komersial, danpinjam-meminjam (qardh/ kredit) guna transaksi sosial;5. Lembaga Keuangan Syariah hanya melakukan investasi yang halal dan tidakmenimbulkan kemudharatan serta tidak merugikan syiar Islam.Dalam membangun sebuah usaha, salah satu yang dibutuhkan adalah modal. Modal dalampengertian ekonomi syariah bukan hanya uang, tetapi meliputi materi baik berupa uangataupun materi lainnya, serta kemampuan dan kesempatan. Salah satu modal yangpentinga adalah sumber daya insani yang mempunyai kemampuan di bidangnya.Sumber Daya Insani (SDI) yang dibutuhkan oleh sebuah lembaga keuangan syariah,adalah seorang yang mempunyai kemampuan profesionalitas yang tinggi, karena kegiatanusaha lembaga keuangan secara umum merupakan usaha yang berlandaskan kepadakepercayaan masyarakat. Untuk SDI lembaga keuangan syariah, selain dituntut memilikikemampuan teknis perbankan juga dituntut untuk memahami ketentuan dan prinsipsyariah yang baik serta memilik akhlak dan moral yang Islami, yang dapat dijabarkandan diselaraskan dengan sifat-sifat yang harus dipenuhi, yakni:- Siddiq, yakni bersikap jujur terhadap diri sendiri, terhadap orang, dan Allah SWT- Istiqomah, yakni bersikap teguh, sabar dan bijaksana;- Fathonah, yakni professional, disiplin, mentaati peraturan, bekerja keras, daninovatif;- Amanah, yakni penuh tanggungjawab dan saling menghormati dalam menjalankan tugasdan melayani mitra usaha;- Tabligh, yakni bersikap mendidik, membina, dan memotivasi pihak lain untukmeningkatkan fungsinya sebagai kalifah di muka bumi.Selain peningkatan kompetensi dan profesionalisme melalui pendidikan dan pelatihan,perlu juga diciptakan suasana yang mendukung di setiap lembaga keuangan syariah,tidak terbatas hanya pada lay out serta physical performance, melainkan juga nuansanon fisik yang melibatkan girah Islamiyah. Hal ini perlu dilakukan sebagaienvironmental enforcement, mengingat agar sumber daya yang telah belajar danmendapatkan pendidikan serta pelatihan yang baik, ketika masuk ke dalam pekerjaannyamenjadi sia-sia karena lingkungannya tidak mendukung.
Referensi :
Dari berbagai sumber


Senin, 12 Januari 2009



MENENTUKAN BISNIS YANG TEPAT

PENDAHULUAN


Kita tidak pernah membayangkan waktu kita membaca sebuah buku ,sebuah buku telah menghasilkan berbagai macam peluang bisnis, mulai dari industri tinta,kertas,percetakan dan penerbitan,pengepakan, distributor buku,toko buku,disainer grafis,ekspedisi dan masih banyak lagi.Berbagai perlengkapan yang ada di rumah anda adalah hasil dari aneka macam bisnis yang telah berkembang bertahun-tahun.Setiap apa yang anda tatap, terdapat seluas lautan peluang bisnis.Pada awalnya anda bingung bahwa kondisi ekonomi seperti sekarang ini tidak ada peluang bisnis.Namun,setelah melihat apa yang sebenarnya terjadi,peluang bisnis justru sangat banyak sekali.Seperti penulis alami kondisi ekonomi seperti sekarang ini muncul peluang baru untuk menjadi konsultan perusahaan yang sedang mengahadapi masalah dengan bisnisnya , mereka membutuhkan advis dan second opinion orang yang diluar perusahaan sehingga diharapkan dapat memberikan masukan yang obyektif untuk perkembangan perusahaan.Justru sekarang bingung karena sedemikian banyak peluang didepan mata. Jika anda kebingungan menentukan pilihan bisnis yang sesuai maka yang anda perlu lakukan adalah merenungkan diri anda, bisnis apa yang kiranya bisa anda nikmati sebagai jalan hidup.Pilihlah bidang bisnis yang membuat anda senang mengelolanya.Jika bidang bisnis yang anda sukai lebih dari satu,pilihlah yang paling memungkinkan untuk direalisasikan.Anda dapat melihat dari sisi modal yang anda miliki atau pasar yang paling potensial untuk digarap.
SUMBER PELUANG BISNIS
Ada beberapa sumber peluang bisnis yang bisa digarap untuk dijadikan ide bisnis yang menjanjikan, yaitu :




  1. Pekerjaan dan Ketrampilan, pengalaman kerja dapat menjadi ide bisnis.Banyak mantan seksekutif mendirikan bisnis yang sama atau mirip dengan bisnis yang dijalankan oleh perusahaan tempat ia bekerja.Banyak wartawan yang keluar dan mendirikan bisnis media sendiri, dalam banyak bisnis, hal ini sudah wajar yang tidak boleh adalah anda bekerja di sebuah perusahaan ekpedisi ,tetapi anda juga punya bisnis sambilan berupa jasa ekpedisi yang menjadi pesaing perusahaan tempat anda bekerja



  2. Minat dan Hobi,kadang-kadang kita tidak begitu memperhatikan kesenangan kita bahwa itu bisa dijadikan peluang bisnis, karena minat dan hobi merupakan sumber yang memiliki kekuatan yang ampuh dalam membangun keyakinan serta motivasi bagi kita untuk memulai usaha.Umumnya orang tidak merasa terbebani untuk melakukan sesuatu yang ia senangi (misalnya minat dan hobi).Ini merupakan modal kuat bagi seorang entrepreneur yang menekuni dunia yang memang ia cintai.Penulis mengandalkan hobi dan minatnya di bidang olah raga beladiri sebagai sumber ide untuk memulai bisnis di bidang olah raga beladiri dengan membuka les privat ataupun kelompok latihan beladiri dengan menjadi pelatih



  3. Bill Gates mengandalkan hobi dan minatnya di bidang komputer sebagai sumber ide untuk memulai kerajaan bisnisnya yang sekarang telah menggurita di seluruh dunia.Yang perlu dicatat adalah banyak orang yang memulai usahanya dari hobi.Namun setelah berjalan , banyak sekali keputusan yang harus dilaluinya.Jika anda membuka bisnis berdasarkan hobi,langkah pertama adalah berusaha memimpin dan mendelegasikan, kemudian manfaatkanlah network anda dan kecintaan anda tanpa mengabaikan perhitungan untung rugi.



  4. Pengalaman, pengalaman diri sendiri dan juga orang lain selain merupakan guru yang baik, juga merupakan sumber ide bisnis yang kaya.



  5. Pengamatan, dengan kita melakukan pengamatan akan segala sesuatu yang terjadi disekitar kita, kita bisa menemukan kebutuhan-kebutuhan pasar (masyarakat) yang belum terpenuhi, yang bisa kita jadikan peluang bisnis.Atau sudah terpenuhi tapi tidak memuaskan konsumen ,konsumen yang tidak puas adalah merupakan peluang bisnis.Pengamatan merupakan ketrampilan yang harus dimilki oleh seorang entrepreneur.



  6. Pendidikan, pendidikan di perguruan tinggi bisa menjadi sumber ide bisnis .Seorang sarjana pertanian bisa punya ide cemerlang untuk memproduksi pupuk organik ,seorang sarjana pendidikan bisa membuat lembaga kursus yang baik.Orang yang sukses mendirikan usaha sesuai dengan pendidikannya biasanya adalah mereka yang mendalami ilmunya sekaligus mempelajari pola bisnisnya di lapangan.



  7. Masalah, masalah adalah tantangan , dan dibalik tantangan pasti ada peluang.Misalkan masalah kalangkaan bahan bakar minyak tanah dan solar muncul peluang bisnis bahan bakar alternatip dari kotoran hewan, masalah saluran air yang macet di komplek perumahan muncul bisnis pembersihan saluran air, masalah air minum yang tidak layak diminum muncul bisnis penjualan air minum dan sebagainya.Rasakan masalah anda dan masalah masyarakat, anda akan menemukan ide bisnis yang prospektif.



    KESIMPULAN


    Peluang bisnis muncul dari adanya permintaan masyarakat terhadap kebutuhan , kebutuhan kemudian berkembang menjadi keinginan .Keinginan yang disertai dengan daya beli maka muncullah peluang bisnis.Bagi seorang wirausaha harus mencermati kebutuhan dan keinginan masyarakat konsumen dan mampu merealisasikannya menjadi kegiatan bisnis yang menguntungkan.

    Minggu, 28 Desember 2008


    MEMULAI BISNIS DENGAN MODAL "BONEK"


    Dalam suatu kesempatan kuliah Kewirausahaan ada seorang mahasiswa yang bertanya kepada saya ,"Pak saya mau memulai usaha tapi saya tidak punya modal bagaimana pak?' ada pertanyaan lain "Pak saya mau bisnis tapi saya tidak punya bakat,bagaimana menurut Bapak?". Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering sekali ditanyakan oleh mahasiswa selama saya mengampu mata kuliah Kewirausahaan ,dari dua pertanyaan itu saya bisa menyimpulkan bahwa cara berfikir dari mahasiswa itu sama dengan kebanyakan orang lain yang mencari-cari alasan untuk tidak memulai bisnis dengan berbagai alasan. Terhadap pertanyaan pertama , saya selalu balik bertanya kepada mahasiswa tersebut,"Anda sekolah dari TK hingga Perguruan Tinggi membutuhkan biaya apa tidak ? siapa yang membiayai anda sekolah ? Orang Tua anda kan? Nah , biaya itulah modal yang telah dikeluarkan .Dengan begitu, Anda harus bertanggung jawab untuk menjadikan modal tersebut sebagai usaha yang produktif".Saya menambahkan , begitu banyak sarjana bahkan juga mahasiswa yang telah memulai bisnisnya tanpa modal. Keunggulan mereka dalam menyusun proposal dan melakukan lobi dengan pihak lain merupakan modal yang bernilai sangat tinggi.Saya sampaikan juga bahwa dari pengalaman saya sebagian besar sarjana yang bisa mandiri adalah mereka yang pada masa kuliah sudah membangun network yang luas.Ikutlah secara aktif dalam organisasi di kampus maupun di luar kampus dan mulailah berlatih bisnis dengan teman-teman mahasiswa lainnya (saya dulu aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa , kebetulan kegiatan itu adalah Silat Perisai Diri, dari kegiatan inilah saya punya banyak teman baik dari perguruan tinggi yang sama maupun perguruan tinggi dari luar daerah,karena waktu itu ada agenda rutin yaitu even pertandingan baik tingkat regional maupun internasional, bahkan sampai sekarang pun kita masih kontak dengan teman-teman Perisai Diri yang ada di luar negri) .
    Banyak orang yang memulai usaha dengan mengandalkan modal diri sendiri selain uang , yaitu :


    1. Badan sehat


    2. Punya kemauan dan keuletan


    3. Punya kejujuran dan percaya diri


    4. Punya kepandaian dalam bergaul


    5. Kepercayaan dari orang lain



    6. Terhadap pertanyaan yang kedua, saya selalu mengatakan kepada mahasiswa itu bahwa apa yang kita hasilkan tergantung pada apa yang kita lakukan, apa yang kita lakukan tergantung pada apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita pikirkan dipengaruhi oleh kata-kata yang kita ucapkan. Jika Anda ingin memulai bisnis,cobalah pilih kata-kata yang positif. Entrepreneur bukan masalah bakat atau turunan,tapi entrepreneur itu dibuat, bukan dilahirkan (entrepreneurs are made, not born) dan Entrepreneurship bukan sekedar pengetahuan,teknik,atau ketrampilan, tetapi lebih kepada masalah sikap mental melalui suatu proses diri dengan praktek dan pengalaman karena dorongan dari motivasi diri sendiri.
      Banyak orang yang berhasil menjadi pengusaha (tadinya tidak punya bakat bisnis) karena mempunyai sikap "BERANI", yaitu :


      1. Berani "Mimpi".


      2. Berani Mencoba.


      3. Berani Merantau.


      4. Berani Gagal.


      5. Berani Sukses.


      6. Berani Berbeda

      7. Kesimpulannya adalah bahwa memulai bisnis tidak perlu mengandalkan bakat dan modal (uang) , jadi bermodalkan "Bonex" (modal diri sendiri dan berani) bisa menghantarkan orang untuk menjadi Entrepreneur yang sukses.

    Senin, 22 Desember 2008

    STUDI KELAYAKAN BISNIS KERAJINAN ENCENG GONDOK


    I. PENDAHULUAN

    Dalam tahun-tahun terakhir ini ekspor dari produk industri kerajinan dan mebel dengan bahan baku dari kayu terutama kayu jati semakin menurun jumlahnya, mengingat semakin sedikit pohon jati yang bisa ditebang. Perkembangan tersebut terutama terjadi di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah. Pada saat ini hutan jati sedang dalam proses pembenihan atau penanaman kembali, yang diperkirakan baru dapat dipanen sekitar 30 hingga 60 tahun yang akan datang.
    Di samping itu adanya ketentuan internasional mengenai Ecolabelling bahwa setiap produk yang menggunakan hasil hutan harus disertai persyaratan tebang pilih atau penanaman kembali jenis kayu yang dimanfaatkan. Kondisi ini juga menurunkan volume ekspor kerajinan dan mebel dari kayu hutan.
    Dengan kondisi tersebut di atas tidak berlebihan jika ekspor produk kerajinan dan mebel perlu ditingkatkan kembali dengan produksi yang menggunakan kayu dari hutan industri maupun bahan baku lainnya yang mudah didapat dan murah.
    Salah satu bahan baku yang cocok untuk produk kerajinan maupun mebel yang sangat mudah didapat dan murah berasal dari tanaman yang tumbuh di perairan yaitu Eceng Gondok juga dikenal dengan nama Bengok atau dalam bahasa latin disebut Eichornia Crassipes, dan dalam bahasa Malaysia disebut Keladi Bunting. Tanaman ini bisa ditemukan di setiap perairan, sungai, waduk, rawa di seluruh pelosok Nusantara dalam jumlah yang sangat banyak.
    Industri kerajinan maupun mebel yang memanfaatkan eceng gondok memiliki daya saing yang tinggi dan mampu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak. Tenaga kerja yang berkecimpung dalam usaha ini dimulai dari “petani”, perajin tali, pengepul, penganyam, desainer, usaha kecil, usaha menengah sampai eksportir.
    Disebut “petani” dalam tanda petik, mengingat orang-orang tersebut sebenarnya tidak bertani namun hanya sebagai pengambil eceng gondok.
    Atau dengan kata lain, eceng gondok tidak dibudidayakan namun tetap dipelihara dengan memotong batang yang cukup umur. Pada akhirnya tanaman eceng gondok tersebut akan bertunas kembali. Eceng gondok yang dipanen oleh “petani” selanjutnya dijual kepada Pengepul atau Perajin tali eceng gondok. Oleh pengepul, eceng gondok basah dapat langsung dijual kepada industri kecil kerajinan. Sementara itu perajin tali eceng gondok bisa menjualnya kepada industri kecil, industri menengah produk kerajinan maupun mebel.
    Dari hasil wawancara dengan para pelaku usaha yang memanfaatkan eceng gondok sebagai komoditas, ternyata belum ada suatu hubungan kemitraan yang dikuatkan dengan Nota Kesepakatan Kerjasama. Hubungan bisnis di antara mereka merupakan hubungan dagang biasa, bahkan di antara pelaku yang setara bisa terjadi persaingan pasar yang sangat bebas. Artinya, siapa yang mempunyai kreatifitas serta mutu yang bagus, akan memiliki peluang yang lebih baik dibandingkan lainnya. Dengan demikian setiap pelaku usaha akan selalu berlomba untuk meningkatkan mutu, baik dalam kegiatan pelayanan maupun produk.
    Untuk lebih mengetahui secara mendalam tentang usaha yang memanfaatkan eceng gondok sebagai komoditas, maka tulisan ini akan mengulas berbagai aspek kelayakan usaha mulai dari “petani” hingga usaha kecil.
    Aspek kelayakan usaha meliputi aspek pasar, aspek teknis produksi, aspek keuangan, aspek sosial ekonomi dan dampak lingkungan. Di samping analisis terhadap aspek kelayakan, diberikan pula berbagai saran kepada semua pihak terutama perbankan yang berminat membiayai proyek ini. Tulisan ini merupakan rangkuman hasil penelitian terhadap beberapa “petani”, perajin tali serta pengepul eceng gondok di Rawa Pening Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang. Juga kepada industri kecil dan usaha menengah kerajinan serta mebel eceng gondok di Kabupaten Bantul DI Yogyakarta serta Trangsan Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah.




    II. ASPEK PEMASARAN

    Penggunaan eceng gondok sebagai bahan baku produk kerajinan maupun mebel mulai dikenal sejak tahun 1990-an. Namun permintaan produk mulai meningkat pada tahun 1995. Krisis ekonomi yang dimulai tahun 1997 juga turut mempengaruhi permintaan produk ini. Pada saat ini pemasaran produk kerajinan dan mebel dengan bahan baku eceng gondok sudah mulai berkembang bersamaan dengan produk berbahan baku rotan, pelepah pisang, pandan dan sebagainya. Permintaan dari mancanegara terus meningkat sejalan dengan membaiknya situasi keamanan, politik.
    Data dari Kantor Bank Indonesia Semarang tahun 2002 sd 2005 menunjukkan pertumbuhan ekspor produk kerajinan dan mebel yang dimasukkan ke dalam 3 (tiga) kelompok yakni Kayu, Barang dari Kayu, kemudian kelompok Jerami/Bahan Anyaman serta Perabot & Penerangan Rumah sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah.

    Tabel 1
    Pertumbuhan Ekspor Produk Kerajinan dan Mebel
    Tahun 2002 sd 2005 (Februari)

    Kelompok Produk
    2002
    2003
    2004
    Th.2005
    Febr.

    US$000
    US$000
    US$000
    US$000
    Kayu & Barang dari Kayu
    225.269
    234.999
    228.077
    53.407
    Perabot & Penerangan Rumah
    444.026
    527.190
    468.929
    104.612
    Jerami/Anyaman
    3.968
    4.366
    7.515
    805
    Sumber : Bank Indonesia Semarang, 2005

    Sementara itu salah satu eksportir di DI Yogyakarta saat ini mampu mengekspor 3 s.d 5 kontainer per minggu dengan 30% di antaranya berupa produk kerajinan berbahan baku eceng gondok dengan negara-negara tujuan antara lain Amerika Serikat, Kanada, Australia dan negara-negara di Eropa. Sedangkan salah satu eksportir di Kabupaten Sukoharjo (termasuk eks.Karesidenan Surakarta) mampu mengirim 6 kontainer per bulan produk mebel dengan 20% s.d 30% berbahan baku eceng gondok, negara-negara tujuan yang sama dengan produk kerajinan. Hingga saat ini para eksportir tersebut masih memperoleh order dari berbagai negara untuk produk-produk kerajinan dan mebel. Dengan memperhatikan besarnya volume ekspor dari tahun ke tahun, maka potensi pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan baku kerajinan maupun mebel akan memberikan peluang yang cukup besar bagi para pelaku usaha dengan eceng gondok sebagai komoditas.
    Apabila diuraikan lebih lanjut, maka permintaan komoditas eceng gondok di setiap pelaku usaha adalah sebagai berikut.

    A. Tingkat Petani
    Permintaan eceng gondok basah yang dipanen oleh petani (masyarakat setempat) berasal dari para pengepul serta perajin tali. Dari wawancara dengan petani di daerah Rawa Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang, diperoleh informasi bahwa setiap petani mampu mengumpulkan dan menjual sekitar 250 kg sampai 300 kg eceng gondok basah perhari dengan harga Rp.150,- per kilogram dengan pembayaran tunai. Dengan demikian setiap petani bisa memperoleh pendapatan sebesar Rp.45.000,- perhari.



    B. Tingkat Perajin Tali
    Perajin tali memproduksi tali/ klabangan dari eceng gondok yang telah dijemur selama 4-5 hari. Setiap hari seorang perajin tali mampu memproduksi hingga 2 kilogram klabangan eceng gondok. Untuk memproduksi 1 kilogram tali/klabangan eceng gondok diperlukan 12 kilogram eceng gondok basah. Produk ini oleh para perajin dijual kepada para pengepul dengan harga Rp.5.000,- per kilogram dengan pembayaran tunai atau pembayaran berjangka waktu maksimal seminggu setelah barang diserahkan.

    C. Tingkat Pengepul
    Pengepul adalah orang yang membeli eceng gondok basah dari petani atau klabangan eceng gondok dari perajin tali. Salah seorang pengepul yang khusus menjual eceng gondok basah setiap hari mampu menjual sebanyak 8 ton kepada industri kecil kerajinan di Bantul Yogyakarta dengan harga jual Rp.237,50 per kilogram. Sedangkan pengepul yang menjual tali/klabangan eceng gondok mampu menjual sekitar 500 kg/hari.

    D. Tingkat Industri Kecil
    Terdapat 2 (dua) jenis Industri kecil yang menggeluti komoditas eceng gondok, yaitu: (a) industri kecil yang memproduksi kerajinan tangan seperti tenun, keranjang, tas, hiasan dinding dsb;(b) industri mebel yang memproduksi perabot rumahtangga antara lain kursi, sofa, lemari dsb.
    Industri kecil yang termasuk type (a) biasanya membeli eceng gondok basah yang dijemur sendiri, kemudian eceng gondok kering diserahkan kepada para ibu rumah tangga atau keluarganya untuk diproses lebih lanjut menjadi tali/klabangan. Sedangkan industri kecil type (b) lebih dominan membeli tali/klabangan eceng gondok. Industri kecil tersebut biasanya memperoleh order dari para eksportir (usaha menengah) yang mereka sebut dengan vendor.
    Produk dari industri kecil ini jenisnya beragam, untuk produk berupa kerajinan tangan harga jual berkisar antara Rp.5.000 s.d Rp.250.000,- per unit. Order dari eksportir mencapai 2400 unit per bulan. Sedangkan industri mebel memperoleh order sekitar 200 unit perbulan dengan harga antara Rp.200.000 s.d Rp.400.000,- per unit.
    Adapun cara pembayaran dari eksportir yang dilakukan adalah secara tunai, di mana tahap pertama memberikan uang muka sebesar 30% dari nilai kontrak sedangkan sisanya setelah barang diserahkan.

    E. Tingkat Industri Menengah/Eksportir
    Seperti telah disebutkan di atas para eksportir umumnya menjual sebagian besar produknya untuk pasar luar negeri baik berupa kerajinan maupun mebel. Usaha-usaha di tingkat inilah yang menjadi tumpuan pasar dari pelaku usaha dengan komoditas eceng gondok mulai dari petani, pengepul dan usaha kecil. Adapun pasar dari para eksportir ini adalah buyer atau pembeli dari mancanegara baik yang memiliki perwakilan di Indonesia maupun langsung dari negaranya.
    Produk berupa mebel maupun barang kerajinan yang terbuat dari kayu, rotan, eceng gondok, pelepah pisang, pandan dan sebagainya merupakan produk-produk yang diminati oleh masyarakat di negara-negara Eropa, Australia dan Amerika juga Asia.
    Rata-rata setiap eksportir telah mempunyai pelanggan masing-masing dan meskipun belum ada asosiasi di antara mereka, namun mereka telah memiliki komitmen yang sama dengan penetapan harga yang relatif sama untuk produk-produk sejenis. Dengan demikian tidak ada suatu persaingan harga yang akan berakibat buruk terhadap usaha mereka.
    Volume pengiriman barang untuk perusahaan yang memproduksi kerajinan mencapai 3-5 kontainer perminggu. Sedangkan produk mebel antara 4 - 6 kontainer per bulan.
    Harga jual dari eksportir kepada buyer cukup beragam, di mana untuk produk kerajinan tangan berkisar antara Rp.3000,- sampai dengan Rp.300.000,- perunit. Sedangkan untuk produk mebel antara Rp.400.000,- sampai dengan Rp.1.300.000,- perunit. Para eksportir ini tidak membedakan antara harga jual untuk ekspor maupun lokal. Biasanya persentase penjualan untuk lokal sangat sedikit dibandingkan ekspor. Pada umumnya bagi buyer yang baru pertama kali dikenal oleh eksportir, diharuskan memberikan uang muka sebesar 50% dari nilai pembelian (bagi buyer pelanggan cukup memberikan uang muka sebesar 30%) berdasarkan Purchase Order (PO) dan sisanya ditransfer melalui bank apabila barang telah diterima di tempat tujuan. Jalur distribusi produk dan cara pembayaran dari setiap unit usaha dapat dilihat pada Tabel 2.


    Tabel 2
    Jalur Distribusi Produk Dan Cara Pembayaran

    Produk
    Penjual
    Pembeli
    Pembayaran
    Eceng Gondok Basah
    Petani
    Perajin Tali,
    Pengepul
    Tunai
    Eceng Gondok Basah
    Pengepul
    Usaha Kecil
    Jangka Waktu 1 minggu
    Eceng Gondok Kering
    Usaha Kecil
    Perajin Tali
    Dihitung dengan produk tali
    Tali/Klabangan
    Perajin Tali
    Pengepul
    Jangka Waktu 1 minggu
    Tali/Klabangan
    Pengepul
    Usaha Kecil
    Tunai
    Kerajinan Tangan & Mebel (Barang dalam Proses)
    Usaha Kecil
    Eksportir
    Uang Muka dan lunas saat barang diserahkan
    Kerajinan Tangan dan Mebel
    Usaha Kecil
    Eksportir
    Uang Muka dan lunas saat barang diserahkan
    Kerajinan Tangan dan Mebel
    Eksportir
    Buyer Mancanegara
    Uang Muka dan lunas saat barang diserahkan
    Sumber : Data Primer (2005)

    Antara petani, pengepul dan usaha kecil di dalam transaksinya hanya didasarkan prinsip jual beli konvensional dengan mengedepankan kepercayaan. Sebagai pengikat kelangsungan hubungan usaha di antara petani dengan pengepul adalah adanya pinjaman dari pengepul kepada petani yang diimplementasikan dalam bentuk pengadaan perahu untuk pengambilan eceng gondok di rawa. Selanjutnya petani akan mengembalikan pinjaman tersebut dengan eceng gondok dalam jumlah yang telah disepakati.
    Kemudian di antara pengepul dan usaha kecil juga sering terjadi pinjam meminjam uang di antara mereka. Kerjasama tertulis antara usaha kecil dengan eksportir hanya berupa Purchase Order serta pengawasan terhadap kualitas produk oleh pihak eksportir. Adapun antara eksportir dengan buyer juga dalam bentuk Purchase Order dengan pemesanan melalui faksimili, telpon atau datang ke pabrik dan transaksi pembayaran melalui transfer antar bank tanpa melalui mekanisme Letter of Credit (L/C). Kemudian pihak buyer juga memberikan supervisi yang bertujuan menjaga kualitas produk. Kondisi semacam ini telah berlangsung lama dan berjalan dengan baik. Apabila produk berupa kerajinan maupun mebel telah terkirim dan ternyata tidak sesuai dengan pesanan baik bentuk maupun kualitasnya, maka biasanya oleh buyer tidak dikembalikan, namun tetap diterima dengan pemotongan harga. Kondisi ini telah berlangsung bertahun-tahun tanpa adanya hambatan dari pihak-pihak terkait.
    Bagi lembaga keuangan terutama bank umum yang akan membiayai usaha seperti ini dianjurkan memberikan kredit kepada 3 (tiga) pelaku usaha sekaligus, yaitu pengepul, industri kecil dan eksportir dengan mengembangkan konsep kemitraan usaha di antara mereka.
    Kemitraan usaha yang dikuatkan dengan suatu Nota Kesepakatan di antara mereka akan menjamin kontinuitas industri yang menggunakan bahan baku eceng gondok.
    Sedangkan untuk pelaku usaha yang lain yaitu perajin tali dan petani akan lebih cocok ditangani oleh BPR (Bank Perkreditan Rakyat) dengan pola kredit kelompok. Secara sederhana, mekanisme kredit kelompok yaitu perjanjian kredit dilakukan oleh ketua kelompok petani berdasarkan Surat Kuasa dari para petani termasuk menerima uang atas nama para petani. Untuk menjamin para pengepul selalu mendapatkan eceng gondok basah maupun tali dari petani dan perajin tali, maka dalam pemberian kredit oleh BPR sebaiknya para pengepul ini diikutsertakan sebagai avalis bagi para perajin tali maupun petani.
    Akan lebih baik jika para pengepul ini disepakati dan diangkat oleh perajin tali maupun petani sebagai ketua kelompok untuk mendapatkan kredit dari bank.
    Sebagai kendala yang merupakan potensi masalah dalam aspek pemasaran ini adalah jika terjadi kerusuhan di dalam negeri seperti adanya teror bom, demonstrasi yang kemudian merambas kepada ketidakstabilan politik yang semuanya mengakibatkan dibatasinya kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Dengan semakin berkurangnya wisatawan berkunjung, maka berkurang pula peluang para eksportir mempromosikan produknya.
    Untuk mengatasi kendala tersebut, maka para eksportir ini secara bersama-sama atau sendiri-sendiri mengikuti pameran ke luar negeri. Kegiatan pameran tersebut biasanya difasilitasi oleh Departemen Perdagangan dan Perindustrian, Pemerintah Daerah, Kamar Dagang dan Industri (Kadin), asosiasi-asosiasi dan sebagainya.
    Dari pameran-pameran inilah biasanya terjadi suatu transaksi pesanan baik produk kerajinan maupun mebel.


    III. ASPEK TEKNIS & PRODUKSI

    Kondisi lingkungan seringkali mempengaruhi pola hidup atau kebiasaan penduduk di suatu daerah termasuk di dalamnya kegiatan untuk memperoleh pendapatan dengan cara melakukan kegiatan tertentu. Demikian pula halnya yang terjadi pada kegiatan usaha yang menggunakan eceng gondok sebagai komoditas.
    Daerah Rawa Pening merupakan daerah pertanian, sehingga mata pencaharian penduduk yang utama adalah bertani. Oleh karena itu penduduk di daerah ini hanya menganggap eceng gondok sebagai komoditas untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Meskipun tanaman eceng gondok ini sudah dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kerajinan dan mebel sejak tahun 1990 an, namun penduduk di daerah Rawa Pening hingga saat ini belum terdorong untuk memproduksi barang kerajinan maupun mebel sendiri. Kegiatan mereka mengolah eceng gondok hanya sebatas membuat tali klabangan.
    Kota Yogyakarta dan Surakarta atau Solo sejak dahulu kala sudah terkenal sebagai daerah industri kerajinan dan mebel dalam skala kecil maupun menengah. Oleh karena itu sebagian kelompok masyarakat di dua daerah ini memiliki kebiasaan untuk menghasilkan produk-produk yang bisa memberikan nilai tambah yang tinggi.
    Di Kabupaten Bantul – Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya, komoditas eceng gondok digunakan sebagai bahan baku pembuatan aneka macam kerajinan tangan (souvenir) seperti tas, keranjang, hiasan dsb. Sedangkan di eks. Karesidenan Surakarta khususnya di Kabupaten Sukoharjo, eceng gondok dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi mebel.
    Keberhasilan pemasaran produk kerajinan maupun mebel yang menggunakan bahan baku eceng gondok sangat dipengaruhi oleh kemampuan para pelaku usaha dalam kegiatan produksi.
    Konsistensi dan keahlian baik dari petani, perajin tali, para pekerja di industri kecil maupun eksportir sangat menunjang kelangsungan usaha produk kerajinan dan mebel.
    Aspek teknis dan produksi dari masing-masing pelaku usaha dapat diuraikan sebagai berikut :.

    A. Petani Eceng Gondok
    Wilayah Rawa Pening Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang merupakan lahan enceng gondok dengan luas tak kurang dari 1.000 hektar. Eceng gondok dari daerah ini memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan daerah Cilacap atau Purworejo, mengingat perairan yang ditumbuhi eceng gondok belum tercemar oleh limbah industri.
    Petani atau pengambil eceng gondok di wilayah ini mencapai 45 orang. Mereka mengambil eceng di Rawa Pening sudah belasan tahun dengan menggunakan sarana produksi berupa perahu. Pada saat ini harga 1 (satu) unit perahu sekitar Rp 250.000,-.
    Proses produksi atau memanen eceng gondok harus mengikuti aturan tertentu untuk mendapatkan bahan baku yang memenuhi syarat bagi industri kerajinan maupun mebel. Eceng gondok yang siap dipanen harus cukup umur yang ditandai dengan batang berwarna hijau tua dengan panjang dari akar di atas 40 sentimeter. Cara pengambilan eceng gondok dengan memotong batang di atas akar menggunakan sabit . Dengan cara demikian rumpun eceng gondok selalu bertunas kembali. Batang-batang eceng gondok tersebut kemudian digabung dan diikat dalam jumlah tertentu (dalam diameter sekitar 1 pelukan tangan orang dewasa). Selanjutnya dimuat dalam perahu dan dibawa ke tepi rawa.
    Di daratan, ikatan-ikatan eceng gondok ditumpuk, sebelum diangkut ke atas truk ditimbang terlebih dahulu untuk memastikan nilai uang yang akan diterima petani.
    Selama ini rata-rata setiap petani mampu memanen eceng basah seberat 2,5 sampai 3 kwintal per hari yang langsung dijual kepada para pengepul atau perajin tali. Kondisi ini masih bisa dipertahankan sepanjang waktu meskipun pada musim kemarau tanaman eceng gondok agak berkurang.
    Dengan memperhitungkan tingkat pengeluaran keluarga petani, maka setiap petani memiliki potensi menabung sebesar Rp.10.000,- sampai Rp.20.000,- per hari yang berarti pula sebagai potensi dana pihak ketiga bagi BPR.

    B. Perajin Tali Eceng Gondok
    Pembuatan tali eceng gondok di daerah Rawa Pening biasanya dilakukan oleh para ibu rumah tangga dan anak perempuan. Hal ini mengingat membuat tali eceng gondok sama dengan mengelabang rambut yang telah biasa mereka lakukan. Karena itu tali eceng gondok juga disebut kelabangan. Di daerah ini tak kurang dari 300 orang melakukan pekerjaan sampingan membuat tali eceng gondok.
    Meskipun kelihatannya mudah, tetapi dalam pembuatan tali eceng gondok tidak bisa dilakukan dengan cara sembarangan namun harus dengan teknik tertentu. Produk tali eceng gondok yang bagus kualitasnya dapat ditengarai dari warna coklat tua, bersih dan tidak berbintik hitam. Selanjutnya ciri lainnya adalah batang eceng gondok terlihat menggelembung, jika dipijat seperti berisi kapas, kemudian tidak tampak adanya sambungan.
    Proses pembuatan tali eceng gondok adalah sebagai berikut:
    1. Penjemuran batang eceng gondok di bawah sinar matahari selama 4 sampai 5 hari. Apabila hujan turun, maka eceng gondok tersebut perlu diteduhkan. Hasil eceng gondok kering yang bagus adalah apabila selama 4 hari berturut-turut tidak kehujanan.
    2. Pengentasan eceng gondok kering dilakukan pada pagi hari setelah mendapatkan pengembunan pada malam hari. Apabila pengambilan eceng gondok kering dilakukan pada siang hari, maka batang eceng gondok akan mudah putus (rapuh).
    3. Pembuatan tali dengan cara mengelabang 3 (tiga batang eceng gondok kering). Jika sisa ujung batang tinggal 4 cm sampai dengan 6 cm, maka harus disambung dengan batang baru. Harus diupayakan ujung batang pada sambungan tidak tampak keluar dari permukaan tali.
    4. Apabila sudah cukup panjang maka tali klabangan tersebut digulung pada kayu yang disusun sedemikan rupa sehingga mudah dilepas dari tali yang sudah digulung.

    5. Proses pengelabangan terus dilakukan hingga mencapai panjang sekitar 23 meter yang setara dengan berat 1 kilogram.
    6. Proses terakir adalah melepas kayu dari gulungan tali, dan tali eceng gondok disimpan siap dijual.
    Dalam pembuatan dan penjualan tali ini, terdapat perkiraan rumusan yang bisa dijadikan acuan untuk daerah Rawa Pening, yaitu:
    · Untuk membuat 1 kilogram tali diperlukan sekitar 12 kilogram eceng gondok basah
    · Setiap tenaga kerja bisa membuat 1 sampai dengan 2 kilogram tali dalam waktu 1 hari.
    · Mengupahkan pembuatan tali dengan biaya sebesar Rp.2.700,- per kilogram tali.
    · Harga jual tali kepada pengepul adalah Rp.5.000,- per kilogram tali
    · Harga jual tali kepada industri kecil mebel atau kerajinan adalah Rp.6.250,- per kilogram tali.

    C. Pengepul
    Di daerah Rawa Pening, orang yang mempunyai profesi sebagai pengepul sekitar 9 orang, dan 2 (dua) di antaranya bisa dikatakan lebih menonjol dibandingkan tujuh lainnya. Para pengepul ini membeli eceng gondok basah dari petani atau tali eceng gondok dari perajin tali. Kemudian menjualnya kepada industri kecil kerajinan maupun mebel.
    Di tingkat pengepul proses produksi yang terjadi adalah:
    1. Penimbangan eceng gondok basah atau tali eceng gondok untuk memastikan besarnya biaya pembelian kepada petani atau perajin tali.
    2. Pemuatan eceng gondok basah atau tali ke atas kendaraan.
    3. Pengiriman produk ke tempat tujuan. Sebagai salah satu contoh, pengiriman eceng gondok kepada industri kecil kerajinan di Yogyakarta langsung diantarkan ke daerah pantai Samas dan Pantai Parangkusumo
    4. Sampai di daerah pantai tersebut, eceng gondok basah diturunkan dari truk dan ditimbang bersama pihak dari industri kecil untuk memastikan nilai jualnya.
    Adapun jenis serta besarnya biaya yang dikeluarkan oleh pengepul eceng gondok basah terdiri dari:
    · Pembelian eceng gondok basah sebesar Rp.150,- perkilogram dengan kapasitas 8.000 kilogram per hari
    · Ongkos muat ke atas truk sebesar Rp.40.000,- per truk.
    · Ongkos bongkar dari truk sebesar Rp.30.000,-per truk
    · Ongkos truk dari Rawa Pening ke Yogyakarta sebesar Rp.205.000,- per truk
    · Berat muatan sekitar 4.000 kilogram per truk.

    Sedangkan untuk penjualan tali eceng gondok biasanya pembeli datang sendiri ke gudang para pengepul.

    D. Industri Kecil
    Kunci sukses industri kecil yang mengolah eceng gondok sebagai bahan baku pembuatan barang kerajinan tangan dan mebel adalah keahlian dalam mendisain produk, kesabaran dan ketelitian. Eceng gondok yang diolah dengan baik akan menghasilkan produk berupa tali klabangan yang cukup kuat, kekenyalan seempuk tali rafia yang diisi kapuk dan tampilan permukaan yang bagus. Tingkat keawetan produk yang menggunakan bahan baku eceng gondok bisa disetarakan dengan rotan.
    Selain dibuat tali klabangan, batang eceng gondok kering bisa ditenun menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) atau langsung dianyam pada benda lain seperti, botol, guci, peti kayu dan sebagainya. Dengan tingkat kegunaan yang sangat beragam, maka eceng gondok sangat cocok sebagai bahan baku produk kerajinan tangan dan mebel. Dibandingkan bahan lain seperti pelepah pisang, pandan dan sejenisnya, pada saat ini konsumen mancanegara lebih menyukai produk yang menggunakan bahan dasar eceng gondok. Hal ini terlihat dari ragam produk pada outlet salah satu eksportir yang menyediakan produk sisa ekspor, di mana sisa produk dari eceng gondok lebih sedikit jumlahnya dibandingkan sisa produk dari bahan lainnya.
    Berikut ini akan disajikan proses produksi (1) kerajinan terbuat dari eceng gondok dari salah satu industri kecil di Kabupaten Bantul- DI Yogyakarta dan (2) Produk mebel dari eceng gondok dari industri kecil mebel di Kabupaten Sukoharjo wilayah Karesidenan Surakarta.
    Tabel 3
    Proses produksi pada Industri kerajinan dari eceng gondok

    No
    Kegiatan
    Keterangan
    1
    Penjemuran Eceng

    · Dijemur di daerah pantai berjarak 100 meter dari garis pantai.
    · Dikerjakan oleh 6 orang tenaga borong dengan upah Rp.120.000/truk
    · Lama penjemuran 4 hari
    · Dari 12 kilogram eceng basah setelah dijemur menjadi 1 kilogram eceng kering

    2
    Mendisain/ merancang produk

    · Disain produk bisa dari eksportir atau pengusaha sendiri
    · Disain produk perlu disepakati oleh pihak eksportir

    3
    Penyiapan bahan

    · Papan kayu sungkai atau tripleks, botol/guci/kendi dan sejenisnya sebagai pola, paku, benang, lem, CO2 cair, obat anti jamur, cat atau bahan melamin, amplas dan sebagainya


    · Tali eceng yang dikerjakan oleh ibu rumahtangga dengan upah sekitar Rp2.500,-/ kilogram
    · Terdapat sekitar 700 orang ibu rumahtangga yang dibina untuk membuat tali klabangan

    4
    Pembuatan Pola

    · Berupa peti kayu segala ukuran sesuai permintaan
    · Pola keranjang sampah dari tripleks
    · Pola-pola lainnya
    · Peralatan yang digunakan berupa, gergaji, bor, alat potong dsb. Dengan nilai total Rp.20 juta,-.

    5
    Penganyaman Pola













    · Melapisi pola-pola yang telah dibuat dengan cara menganyamkan tali atau batang kering eceng gondok.
    · Bahan penolong yang digunakan berupa lem, paku, benang.
    · Kegiatan ini dilakukan oleh sekitar 60 orang tenaga borong yang bekerja di tempat tinggal mereka masing-masing.


    · Upah borong tergantung dari besar kecilnya produk serta tingkat kesulitan pekerjaan. Mulai dari Rp.500,- sampai dengan Rp.30.000,- per unit.
    · Untuk produk 1 set keranjang pakaian terdiri dari 3 unit berbagai ukuran memerlukan 8 kilogram tali eceng gondok.
    · Pada proses ini pihak dari industri kecil melakukan supervisi agar produk yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan yang ditentukan.

    6
    Penjemuran

    · Produk yang dihasilkan perajin masih dalam bentuk working in process
    · Diangkut ke workshop milik industri kecil
    · Dibersihkan dengan menggunakan CO2 cair untuk menghilangkan bercak hitam atau memutihkan anyaman tali eceng gondok.
    · Disemprot dengan obat anti jamur
    · Dijemur selama 8 jam

    7
    Proses Finishing



















    · Setelah dijemur, produk dibrongot yakni membersihkan serat-serat yang terlepas dari anyaman tali dengan cara dibakar menggunakan alat penyembur api kecil.
    · Diberi warna sesuai dengan pesanan
    · Diampelas dengan amplas yang halus dan disikat untuk menghilangkan bubuk pewarna.
    · Dilapisi dengan melamin
    · Dijemur kembali sampai lapisan melamin kering
    · Produk disimpan di gudang siap kirim
    · Untuk kegiatan nomor 6 dan 7 dilaksanakan oleh 15 orang tenaga tetap
    · Upah harian berkisar Rp.10.000,- sampai dengan Rp.25.000,- perhari dan dibayarkan setelah 1 minggu bekerja.
    Sumber: Data Primer







    Tabel 4
    Proses produksi pada Industri mebel dari eceng gondok

    No
    Kegiatan
    Keterangan
    1
    Mendisain /merancang produk
    · Disain produk bisa dari eksportir atau pengusaha sendiri
    · Disain produk perlu disepakati oleh pihak eksportir

    2
    Penyiapan bahan

    · Papan dan balok kayu serta tripleks, sebagai kerangka dari mebel, paku, benang, lem, CO2 cair, obat anti jamur, cat atau bahan melamin, amplas dan sebagainya yang bisa dibeli di toko bahan atau lewat eksportir.
    · Tali eceng dibeli dari pengepul di daerah Rawa Pening dengan harga Rp.6.250,- perkilogram

    3
    Pembuatan Pola Kerangka

    · Berupa kerangka kayu untuk berbagai jenis model mebel, misalnya Arm Chair (AC), Kursi, Kursi Malas, Sofa type 2 Sitter, 3 Sitter dsb. ukuran sesuai permintaan
    · Peralatan yang digunakan berupa, gergaji, bor, alat potong, alat semprot cat, dan lain-lain. Nilai totalnya adalah sebesar Rp.10 juta,-.
    4
    Pengamplasan kerangka

    · Kerangka kayu yang telah disusun selanjutnya dihaluskan dengan cara mengampelas menggunakan mesin ampelas listrik
    5
    Desinfektan

    · Untuk mencegah kerangka kayu dari serangan ngengat atau sejenisnya, maka diberi desinfektan
    6
    Penganyaman






    · Melapisi kerangka kayu yang telah dibuat dengan cara menganyamkan tali eceng gondok.
    · Bahan penolong yang digunakan berupa lem, paku, benang.
    · Kegiatan ini dilakukan oleh sekitar 10 orang tenaga borong yang bekerja di tempat tinggal mereka masing-masing atau di workshop industri kecil.
    · Upah borong tergantung dari besar kecilnya produk serta tingkat kesulitan pekerjaan. Mulai dari Rp.25.000,- sampai dengan Rp.65.000,- per unit.
    · Untuk produk 1 set sofa 3 sitter memerlukan 32 kilogram tali eceng gondok.
    · Pada proses ini pihak dari eksportir kadang-kadang bersama Buyer melakukan supervisi agar produk yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan yang ditentukan.
    7
    Siap kirim kepada eksportir untuk proses lebih lanjut

    · Jika kontrak hanya sampai dengan penganyaman tali eceng, maka Produk yang dihasilkan perajin masih dalam bentuk working in process siap dikirim ke eksportir
    · Jika kontraknya sampai produk jadi, maka proses selanjutnya dilaksanakan oleh industri kecil yakni dengan meneruskan kegiatan 8 dan 9.

    8
    Penjemuran
    · Dibersihkan dengan menggunakan CO2 cair untuk menghilangkan bercak hitam atau memutihkan anyaman tali eceng gondok.
    · Disemprot dengan obat anti jamur
    · Dijemur selama 8 jam

    9
    Proses Finishing

    · Setelah dijemur, produk dibrongot dengan api untuk menghilangkan serat-serat yang terlepas dari anyaman tali
    · Diberi warna sesuai dengan pesanan
    · Diampelas dengan amplas yang halus dan disikat untuk menghilangkan bubuk pewarna.
    · Dilapisi dengan melamin
    · Dijemur kembali sampai lapisan melamin kering
    · Produk disimpan di gudang siap kirim

    Sumber: Data Primer

    E. Eksportir
    Tidak diragukan peran para eksportir sangat penting dalam kelanjutan industri dengan menggunakan komoditas eceng gondok. Keahlian mereka dalam menciptakan desain produk yang diminati oleh konsumen mancanegara merupakan kunci sukses mendampingi kekuatan manajemen yang baik serta modal yang cukup. Baik eksportir yang mengkhususkan diri mengekspor barang kerajinan tangan (handycraft) ataupun mebel harus mampu menciptakan produk-produk terbaik dengan harga yang bersaing apabila ingin tetap survive dan berkembang. Kelanjutan usaha para industri kecil dan perajin eceng gondok sangat tergantung dari order dari para eksportir ini.
    Dalam kegiatan produksi, kebanyakan para eksportir ini melakukan kerjasama dengan para industri kecil dan perajin. Pada umumnya mereka hanya melanjutkan kegiatan pada butir 8 yaitu proses penjemuran dan 9 yakni proses finishing. Dan seperti pada industri kecil, yang lebih diutamakan adalah merancang atau mendisain produk sesuai permintaan buyer dari mancanegara.
    Ketika produk akan dinaikkan ke dalam peti kemas (container), maka sebelumnya barang-barang tersebut dikemas atau dibungkus dengan kertas karton dan diikat agar tidak lecet atau rusak ketika berada dalam pengangkutan.
    Kegiatan proses produksi yang dilakukan salah satu eksportir mebel di Kabupaten Sukoharjo dilaksanakan oleh 17 orang pegawai tetap terutama untuk kegiatan proses penjemuran dan finishing produk setengah jadi atau working in process. Upah yang diberikan berkisar antara Rp.15.000,- sampai dengan Rp.25.000,- per orang per hari.

    Dalam kegiatan produksi di setiap tingkatan mulai dari petani sampai dengan eksportir tidak ada kendala mengingat semua proses produksi dapat dilakukan dengan mudah. Di samping itu peralatan produksi yang dipakai adalah alat-alat yang mudah digunakan dan mudah dibeli di toko-toko setempat. Demikian pula bahan baku dan bahan penolong, menggunakan bahan-bahan lokal yang bisa dibeli dengan mudah.


    IV. ASPEK KEUANGAN

    Kemampuan untuk survive atau berkembangnya suatu usaha tidak lepas dari kemampuan pengusahanya dalam mengelola keuangan perusahaannya. Setiap rupiah uang yang berhasil dihimpun digunakan untuk pembiayaan dalam operasional usaha secara tepat guna dan berdaya guna. Manajemen keuangan yang sederhana yang diterapkan oleh pelaku usaha yang menggunakan eceng gondok sebagai komoditas mampu melestarikan kelanjutan usahanya.
    Dari beberapa usaha yang disurvei, ternyata ada yang telah menggunakan kredit bank, namun masih ada juga yang menggunakan modalnya sendiri tanpa bantuan kredit dari bank.
    Untuk mengetahui kemampuan dari setiap usaha ini mulai dari petani sampai eksportir, akan dilakukan analisis terhadap aspek keuangannya. Dalam melakukan analisis aspek keuangan ini diawali dengan menetapkan berbagai asumsi yang berhubungan dengan aspek pemasaran dan aspek teknis produksi sebagaimana telah diuraikan di atas. Kemudian dilanjutkan dengan penyusunan kebutuhan dana baik untuk modal kerja maupun investasi setiap kegiatan dalam usaha tersebut. Diteruskan dengan perkiraan proyeksi laba rugi serta arus kas usaha.
    Dengan mengetahui hasil analisis keuangan ini termasuk di dalamnya net present value (NPV) dari setiap rupiah yang diperoleh pada masa datang, berapa lama masa payback periodnya, berapa besar tingkat benefit & cost rationya maka prospek pembiayaan usaha ini dikemudian hari akan dapat diketahui.
    Bagi bank, analisis aspek keuangan ini akan menunjukkan seberapa besar kemampuan menabung oleh usaha tersebut dikaitkan dengan potensi kredit serta tingkat suku bunga yang bisa diberikan dalam kegiatan usaha ini.
    Bagi investor baru yang ingin terjun pada usaha ini akan dapat mengetahui seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh dari dana yang diinvestasikan dalam kegiatan usaha.

    Asumsi Dasar
    Asumsi dan parameter yang digunakan adalah sebagai berikut:

    Tabel 5
    Asumsi Dasar

    No
    Asumsi
    A.

    Aspek Pasar
    1. Untuk masa depan, permintaan produk dianggap konstan dalam jangka waktu 5 tahun yang merupakan umur ekonomis proyek
    2. Pertumbuhan jenis usaha yang sama diperhitungkan tidak ada (0%), atau tingkat persaingan besarnya tetap sama, sehingga volume produksi maupun penjualan dapat dipertahankan.
    3. Tingkat persaingan di antara pelaku usaha sejenis tidak saling menjatuhkan harga jual produk
    4. Produk untuk perhitungan analisis diambil contoh 1 jenis dengan permintaan terbanyak
    5. Tidak ada peraturan yang mengurangi kebebasan berusaha

    B.
    Aspek Teknis & Produksi
    1. Persediaan tanaman eceng gondok tidak berkurang dan lahan tempat bertumbuhnya tidak tercemar limbah industri dan sampah
    2. Kemudahan dalam penyediaan sarana produksi masih dapat terjamin
    3. Harga pembelian sarana produksi diperhitungkan adanya kenaikan sebesar 5 % pertahun
    4. Kerjasama produksi mulai dari petani, perajin, pengepul, industri kecil dan eksportir setidaknya bisa dipertahankan seperti saat ini
    5. Tidak ada gangguan terhadap kegiatan produksi yang disebabkan adanya kerusuhan, demonstrasi

    C.
    Aspek Keuangan
    1. Diperhitungkan adanya kenaikan harga jual produk dan biaya produksi rata-rata 5 % pertahun yang dipengaruhi inflasi.
    2. Sukubunga kredit perbankan tidak naik dan diperhitungkan sebesar 1,5% perbulan menurun
    3. Tidak ada penundaan pembayaran di antara pelaku usaha tersebut di luar kebiasaan yang selama ini terjadi.
    4. Komposisi dana yang berasal dari modalnya sendiri dibanding dengan kredit bank tergantung kemampuan masing-masing usaha.


    Kebutuhan Dana

    Setiap usaha membutuhkan dana yang dapat dibagi menjadi 2 (dua) golongan pembiayaan, yaitu biaya Investasi dan biaya untuk operasional usaha.
    Biaya investasi merupakan kelompok biaya untuk memenuhi kebutuhan pengadaan fisik usaha seperti: lahan/tanah, bangunan, mesin dan peralatan, kendaraan untuk transportasi, perijinan usaha yang secara akuntansi dimasukkan dalam pos-pos harta tetap yang umur ekonomisnya lebih dari 1 (satu) tahun. Sedangkan biaya operasional yang juga disebut modal kerja merupakan komponen biaya untuk pembelian bahan baku, bahan penolong, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik (termasuk di dalamnya biaya listrik, pemeliharan dan penyusutan), biaya administrasi dan umum, biaya pemasaran, bahan bakar untuk transportasi.
    Dalam analisis aspek keuangan kedua kelompok biaya ini dimasukkan sebagai dana atau investasi awal pada tahun ke-0 (nol). Di dalam proyeksi arus kas pada tahun ke lima atau tahun terakhir, sisa nilai buku dari harta tetap dan nilai modal kerja seluruhnya diperhitungkan sebagai salvage value yang menambah pos penerimaan usaha.

    1. Biaya Investasi
    a. Petani eceng gondok
    Untuk seorang petani pengambil eceng gondok di rawa hanya memerlukan biaya investasi sebesar Rp.250.000,- untuk pembelian atau pembuatan sebuah perahu kayu dengan dayung. Di daerah Rawa Pening Ambarawa terdapat seorang pengepul yang memberikan pinjaman kepada petani untuk pengadaan perahu tersebut. Hal ini merupakan potensi bagi BPR untuk memberikan kredit kepada kelompok petani dengan ketua kelompoknya adalah pengepul eceng.
    Dengan asumsi seperti di atas, maka diharapkan sumber dana untuk biaya investasi ini berasal dari kredit BPR sebesar Rp.200.000,- dan modal dari petani sebesar Rp.50.000,-

    b. Perajin Tali
    Perajin tali tidak membutuhkan biaya investasi, mengingat alat produksi (penggulung tali) yang digunakan hanya berupa potongan kayu yang diperoleh dari kayu bekas bangunan atau batang pohon.



    c. Pengepul
    Pada tingkat ini, kebutuhan biaya investasi digunakan untuk membeli sebuah timbangan gantung dengan harga beli sebesar Rp.250 ribu,- untuk menimbang tali dan eceng gondok basah. Dalam analisa usaha di tingkat pengepul diusulkan alternatif pengembangannya dengan pengadaan 1 unit truk dengan kapasitas angkut 4-5 ton seharga Rp.150 juta,-. Truk ini dapat digunakan mengangkut 8 ton eceng gondok basah dalam 2 rit perhari dengan trayek Rawa Pening – DI Yogyakarta (jarak sekitar 110 kilometer). Kembali dari Yogyakarta truk tersebut dapat digunakan untuk mengangkut pasir Muntilan yang dijual di Semarang dan sekitarnya. Dengan demikian pengepul ini akan mendapatkan hasil pokok berupa penjualan eceng gondok dan hasil tambahan yang berasal dari penjualan pasir Muntilan.
    Dengan asumsi seperti di atas, jumlah investasi Rp.150.250.000,-, dan sumber dana untuk biaya investasi berasal dari kredit bank sebesar Rp.100.000.000,- dan dari modalnya sendiri sebesar Rp.50.250.000,-.



    d. Industri Kecil
    Untuk analisa usaha dari industri kecil diambil salah satu contoh industri kecil kerajinan tangan yang berada di Kabupaten Bantul.
    Biaya investasi untuk 1 unit usaha di tingkat industri kerajinan meliputi pengadaan:

    Tabel 6
    Investasi pada Industri Kecil Kerajinan
    No
    Jenis Investasi
    Nilai (Rp)
    1
    Lahan untuk workshop dan tempat jemur (1.000 m2)
    150.000.000
    2
    Bangunan workshop semi permanen (500 m2)
    150.000.000
    3
    Berbagai alat produksi (gergaji, bor, pemotong dsb)
    20.000.000
    4
    Kendaraan pickup (2 unit)
    80.000.000

    Jumlah
    400.000.000

    Dana sebesar tersebut di atas bersumber dari modalnya sendiri karena selama ini belum pernah menggunakan kredit dari bank. Jumlah tersebut merupakan revaluasi harta tetap berupa tanah yang dimiliki dari pihak keluarga, di samping itu juga dari hasil pemupukan modal dari hasil kegiatan usaha.
    Namun apabila diasumsikan bahwa nilai di atas merupakan investasi baru dengan modal sendiri sebesar Rp.300 juta (nilai tanah dan bangunan), maka diperlukan kredit dari bank sebesar Rp.100 juta.

    e. Eksportir
    Untuk usaha yang akan dianalisis di tingkat eksportir diambil salah satu contoh eksportir mebel di Desa Trangsan – Kabupaten Sukoharjo. Pada saat ini investasi yang dimiliki perusahaan berupa:





    Tabel 7
    Investasi pada Usaha Eksportir

    No
    Jenis Investasi
    Nilai (Rp)
    1
    Lahan untuk workshop, gudang dan tempat jemur (2.000 m2)
    600.000.000
    2
    Bangunan workshop dan gudang permanen (1200 m2)
    600.000.000
    3
    Berbagai alat produksi (gergaji, bor, pemotong dsb)
    40.000.000
    4
    Kendaraan pickup (2 unit)
    Truk kapasitas 4 ton (1 unit)
    80.000.000
    120.000.000

    Jumlah
    1.440.000.000
    Sumber: Data Primer diolah

    Sumber dana sebesar tersebut di atas termasuk revaluasi nilai tanah yang telah dibeli dan berasal dari pemupukan modal dari hasil usaha. Selama ini belum pernah mendapatkan kredit dari bank. Namun jika dianggap suatu investasi baru dengan dana sendiri digunakan untuk membeli tanah dan bangunan sebesar Rp.1.200juta, sisanya diasumsikan berasal dari kredit bank sebesar Rp.240 juta.

    2. Biaya Operasional / Modal Kerja
    Untuk suatu kegiatan usaha diperlukan modal kerja yang digunakan untuk membiayai operasional usaha. Meskipun disebut modal kerja tidak berarti hanya bersumber dari dana sendiri, namun bisa berasal dari kredit bank atau lainnya. Berdasarkan kaidah akuntansi yang berlaku fungsi dari modal kerja adalah untuk membiayai semua kegiatan usaha yang memenuhi masa/periode pemakaian kurang dari 1 (satu) tahun.
    Kebutuhan modal kerja minimum tergantung dari berapa lama perputaran uang kas dari setiap usaha, sejak uang dikeluarkan hingga diterima kembali dalam bentuk kas.
    Setiap usaha memiliki karakteristik tersendiri, sehingga kebutuhan modal kerjanyapun berbeda-beda sebagai berikut:

    a. Petani
    Dalam kegiatan sehari-hari petani eceng gondok tidak memerlukan modal kerja. Hal ini disebabkan proses panen eceng gondok hanya perlu waktu 9-10 jam, dan petani langsung memperoleh uang dari hasil penjualan eceng kepada pengepul pada hari itu juga. Meskipun demikian untuk analisis keuangan tetap diperhitungkan adanya modal kerja berupa gajinya sendiri sebesar Rp.700.000,-/ bulan.

    b. Perajin Tali
    Proses produksi untuk membuat tali eceng gondok diawali dengan penjemuran eceng selama 4 hari. Kemudian dilanjutkan dengan mengelabang eceng kering menjadi tali perlu waktu 1 hari untuk mendapatkan 2 kilogram tali. Pembayaran dari pengepul kepada perajin tali ditunda selama 15 hari. Sehingga total periode putaran uang adalah 20 hari. Adapun untuk memproduksi 2 kilogram tali dibutuhkan 24 kilogram eceng gondok basah @ Rp.150,-/kilogram. Dengan demikian setiap perajin tali membutuhkan modal kerja sebagai berikut:
    Pembelian bahan baku = 24 kg x 20 hari x Rp.150,- = Rp.72.000,-. Sumber dana sebesar tersebut bisa berasal dari kredit BPR.

    c. Pengepul
    Kemampuan pengepul membeli eceng gondok dari petani diperhitungkan sebanyak 8.000 kilogram @ Rp.150,-/kilogram. Eceng gondok basah tersebut langsung dikirim dalam 2 (dua) kali pengiriman perhari kepada usaha kecil di Bantul- Yogyakarta, dengan jangka waktu pembayaran 7 hari. Agar truk tersebut lebih berdaya guna, maka sekembalinya dari Yogyakarta ke Ambarawa dapat dimanfaatkan mengangkut pasir dari Muntilan. Untuk kegiatan-kegiatan tersebut diperlukan modal kerja sebagai berikut:
    Tabel 8
    Kebutuhan Modal Kerja UsahaPengepul
    Pembelian Enceng
    7x8000xRp150
    8.400.000
    Pembelian Pasir
    2ritxRp.225.000
    500.000
    Upah muat
    4 ritxRp.40.000
    160.000
    Upah bongkar
    4 ritxRp.30.000
    120.000
    Upah pengemudi
    2 ritxRp.100.000
    200.000
    Biaya Operasional
    1 x Rp.7.600.000
    7.600.000
    Jumlah

    16.980.000
    Sumber: Data Primer diolah
    Modal kerja sebesar tersebut di atas diperkirakan berasal dari kredit bank sebesar Rp.10juta dan modalnya sendiri sebesar Rp.6.930.000.

    d. Industri Kecil
    Industri kecil kerajinan yang langsung membeli eceng gondok basah dari pengepul serta memperoleh order dari eksportir memerlukan modal kerja untuk pembuatan keranjang pakaian sebanyak 2.000 set. Untuk 1 set keranjang memerlukan 8 kilogram eceng kering. 2 lembar papan kayu sungkai atau albizia.




    Tabel 9
    Kebutuhan Modal Kerja Industri Kecil Kerajinan
    Eceng basah
    2000x8x12xRp237.5
    45.600.000
    Upahpengeringan
    2000x96xRp30
    5.760.000
    Upah pembuatan tali
    2000x8xRp.2.500
    40.000.000
    Papan Kayu
    2000x2xRp1.500
    6.000.000
    Upah pembuatan kotak kayu
    2000xRp.2.500
    5.000.000
    Upah menganyam kotak kayu
    2000xRp.15.000
    30.000.000
    BahanFinishing
    2000xRp.5.000
    10.000.000
    Upah Finishing
    2000xR.5.000
    10.000.000
    BiayaUmum pabrik

    6.000.000
    Biaya Operasional

    4.000.000
    Jumlah

    162.360.000
    Sumber:Data Primer diolah
    Dari jumlah biaya operasional tersebut, pengusaha memperoleh uang muka sebesar: 30%x 2000xRp.100.000 = Rp.60.000.000,- dari eksportir. Di mana harga jual keranjang kepada eksportir adalah Rp.100.000,- per set. Nilai tersebut merupakan bagian dari modalnya sendiri sebesar Rp.62.360.000.
    Dengan demikian potensi kredit yang dapat diberikan kepada pengusaha industri kecil kerajinan sebesar Rp.100juta.
    Order keranjang pakaian sebanyak 2000 set tersebut dapat diselesaikan dalam waktu 2 bulan.

    e. Ekportir
    Pada saat ini pembelian dari Buyer mancanegara mencapai 3 kontainer per bulan dengan nilai rata-rata mencapai Rp.90 juta per kontainer. Jumlah mebel per kontainer mencapai 200 unit. Dengan demikian selama 1 bulan jumlah unit yang diproduksi minimal mencapai 600 unit.
    Biaya operasional termasuk biaya produksi produksi untuk 600 unit mebel adalah sebagai berikut:
    Tabel 10
    Kebutuhan Modal Kerja Usaha Eksportir
    Bahan baku & penolong
    600xRp120.000
    72.000.000
    Upah Tukang
    600xRp60.000
    36.000.000
    B.Umum Pabrik

    3.000.000
    Pengangkutan
    3xRp20.000.000
    60.000.000
    Biaya Umum

    30.000.000
    Jumlah

    201.000.000
    Sumber: Data Primer diolah
    Jumlah tersebut di atas merupakan modal kerja yang diperlukan selama 1 bulan. Biasanya eksportir mendapat uang muka dari buyer sebesar 30% dari nilai order yakni sebesar= 30% x Rp.270.000.000 = Rp.81.000.000,-. Berarti kekurangan modal kerja sebesar Rp.120.000.000,- diasumsikan akan dipenuhi dari kredit bank.

    Struktur Dana

    Dari prakiraan kebutuhan dana baik untuk investasi maupun modal kerja di atas dapat diringkas struktur dana masing-masing usaha sebagai berikut:


    Tabel 11
    Struktur Dana
    Usaha
    Investasi
    Rp.juta
    Modal
    Kerja
    Rp.juta
    Modal
    Sendiri
    Rp.juta
    Kredit
    Invest.
    Rp.juta
    Kredit
    M.Kerja
    Rp.juta
    Petani
    0,25
    0,7
    0,75
    0,2
    0
    Perajin
    0
    0,072
    0
    0
    0,072
    Pengepul
    150,25
    16,93
    57,18
    100
    10
    Ind.Kecil
    400
    162,36
    362,36
    100
    100
    Eksportir
    1.440
    201
    1281
    240
    120
    Sumber: Data primer diolah
    Dihubungkan dengan populasi petani dan perajin serta pengepul yang ada di daerah Rawa Pening dan diasumsikan setiap pelaku usaha yang sejenis memperoleh kredit dalam jumlah yang sama, maka potensi kredit yang bisa diberikan kepada kelompok usaha di daerah Rawa Pening adalah:


    Tabel 12
    Potensi Kredit
    Pelaku
    Usaha
    Populasi
    Kredit
    Investasi
    Kredit
    Modal kerja
    Petani
    45
    9.000.000
    0
    Perajin
    300
    0
    21.600.000
    Pengepul
    9
    900.000.000
    90.000.000
    Sumber: Data Primer diolah
    Meskipun populasi dari industri kecil kerajinan di Yogyakarta dan industri kecil mebel di Kabupaten Sukoharjo belum diketahui secara pasti, namun diperkirakan mencapai belasan unit. Jika setiap industri kecil memerlukan kredit rata-rata sebesar Rp.200 juta, maka potensi kreditnya bisa mencapai jumlah yang besar.
    Adapun skim kredit yang digunakan dalam perhitungan analisis keuangan dari setiap jenis usaha diperlakukan sama yakni:

    Tabel 13
    Skim Kredit
    Jenis Penggunaan
    Jangka Waktu
    Tingkat Sukubunga
    Masa Tenggang
    Cara Pembayaran Angsuran Pinjaman
    Modal Kerja dan Investasi
    Masing-masing 5 tahun
    18% pertahun - menurun
    Tidak ada
    Pembayaran Pokok pinjaman dan bunga secara bulanan.
    Dalam analisa keuangan besarnya angsuran dihitung secara tahunan.
    Besarnya angsuran pokok pinjaman, adalah tetap. Sedangkan besarnya bunga dihitung dari sisa pokok pinjaman tahun sebelumnya.

    Proyeksi Laba/Rugi Usaha

    Dari kegiatan yang dijalani, setiap unit usaha mempunyai kemampuan menghasilkan laba yang berbeda dan terlihat mampu membayar angsuran dan bunga pinjaman yang menjadi kewajibannya masing-masing. Laba bersih (setelah dikurangi nilai bunga dan pajak) yang dihasilkan setiap jenis usaha pada tahun pertama dibandingkan dengan pembayaran angsuran pokok pinjaman adalah sebagai berikut:
    Tabel 14
    Perbandingan antara Angsuran Pinjaman dengan Laba
    Jenis Usaha

    Laba
    Rp.
    Angsuran
    Rp.
    Rasio Ang/Laba (%)
    Petani
    5.405.000
    40.000
    0,74
    Perajin Tali
    167.000
    44.000
    26,35
    Pengepul
    41.570.000
    22.000.000
    52,92
    Industri Kecil
    128.224.000
    40.000.000
    31,2
    Eksportir
    542.310.000
    72.000.000
    13,28
    Dengan melihat rasio angsuran pokok pinjaman dengan laba bersih setiap usaha, maka untuk petani jangka waktu pengembalian pinjaman bisa dipendekkan menjadi 1 (satu) tahun. Sedangkan untuk eksportir bisa menjadi 2 (tahun), sementara itu untuk perajin tali, pengepul dan industri kecil tetap 5 (lima) tahun demi kelangsungan usaha.
    Dari proyeksi laba/rugi juga dapat diketahui profitabilitas setiap jenis usaha yang dihitung dari rata-rata laba sebelum pajak pertahun dibagi dengan rata-rata penjualan pertahun, sebagai berikut:
    Tabel 15
    Laba,Penjualan dan Profitabilitas

    Jenis Usaha

    Laba pertahun
    Rp.
    Penjualan pertahun
    Rp.
    Profitabilitas (%)
    Petani
    6.310.600
    15.665.200
    40,28
    Perajin Tali
    214.800
    3.481.200
    6,17
    Pengepul
    62.670.200
    946.872.200
    6,62
    Industri Kecil
    185.581.000
    1.392.459.000
    13,33
    Eksportir
    901.410.400
    3.759.639.600
    23,98


    Analisa Kelayakan Usaha

    Untuk memastikan apakah suatu usaha itu layak diteruskan atau tidak perlu dibiayai, sangat tergantung dari prospek masa datang usaha tersebut.
    Masa depan suatu usaha tidak satupun yang bisa memastikan, namun masa depan hanya bisa diestimasikan. Untuk mengestimasikan masa depan hal yang perlu diperhatikan adalah dalam penetapan berbagai asumsi yang realistis, baik asumsi mengenai kondisi pasar, aspek teknis serta aspek lainnya. Setelah asumsi-asumsi yang didasarkan dari pengalaman yang terjadi saat ini telah ditetapkan, maka langkah selanjutnya adalah menganalisis aspek keuangan dengan memperhitungkan adanya perubahan nilai uang yang disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor pengurangan nilai uang dalam manajemen keuangan disebut Discounted Factor.
    Perangkat analisis terhadap kelayakan aspek keuangan adalah:
    1. Net Present Value (NPV)
    Adalah suatu suatu metode penilaian investasi dengan mendiskontokan aliran kas di masa depan dengan suatu discounted factor tertentu yang merefleksikan biaya kesempatan modal. NPV diperoleh dengan cara mengurangkan semua pengeluaran investasi awal dengan aliran kas bersih di masa depan yang dinilai sekarang (present value). Apabila diperoleh nilai NPV positif, maka dapat dikatakan bahwa proyek yang dinilai layak dibiayai atau diteruskan. Jika nilai NPV negatif, maka proyek tidak layak.
    Dari rencana proyeksi arus kas masing-masing usaha selama 5 (lima) tahun, diperoleh hasil perhitungan NPV dengan tingkat sukubunga 18% pertahun, sebagai berikut:

    Tabel 16
    Net Present Value (NPV)
    Jenis Usaha
    NPV (Rp.)
    Petani
    15.176.000
    Perajin Tali
    489.000
    Pengepul
    123.406.000
    Industri Kecil
    210.406.000
    Eksportir
    1.001.864.000

    Hasil NPV tersebut adalah positif, artinya setiap usaha layak diteruskan dan dapat diberi kredit dengan tingkat suku bunga kredit 18% pertahun.

    2. Internal Rate of Return (IRR)
    Adalah suatu ukuran yang akan membandingkan nilai IRR dengan tingkat bunga atau tingkat keuntungan dari suatu investasi. IRR diperoleh pada suatu posisi di mana nilai NPV= nol.
    Jika diperoleh nilai IRR lebih besar dari tingkat sukubunga bank, maka proyek ini layak diberikan kredit dengan sukubunga tersebut. Sebaliknya jika IRR lebih kecil dari sukubunga bank, maka proyek tidak layak.
    Selanjutnya dalam perhitungan IRR ini juga dilakukan suatu analisis sensitifitas dalam upaya mengantisipasi adanya perubahan pendapatan atau pengeluaran. Analisis sensitifitas ini dilakukan dengan 2 (dua) kondisi, yaitu:
    · Penerimaan tetap seperti rencana, tetapi pengeluaran bertambah sebesar 5 %. Dari kondisi ini diperoleh IRR-S1
    · Pengeluaran tetap seperti rencana, tetapi penerimaan berkurang 5 %. Dari kondisi ini diperoleh IRR-S2.
    Dari arus kas selama 5 tahun yang direncanakan, maka diperoleh nilai IRR, IRR-S1 dan IRR S-2 masing-masing usaha, yaitu:



    Tabel 17
    Internal Rate of Return

    Jenis Usaha
    IRR
    IRR-S1
    IRR-S2
    Petani
    582,92%
    537,21%
    508,3%
    Perajin Tali
    97,26%
    28,82%
    23,88%
    Pengepul
    50,7%
    21,74%
    17,98%
    Industri Kecil
    32,81%
    21,98%
    20,1%
    Eksportir
    41,72%
    32,56%
    30,28%

    Dari perolehan IRR tersebut setiap usaha layak diberikan kredit dengan tingkat sukubunga 18% pertahun, meskipun terdapat kemungkinan berkurangnya penjualan atau bertambahnya biaya-biaya pengeluaran. Dari IRR sensitifitas dapat diperkirakan bahwa usaha dari Perajin Tali dan Pengepul sangat sensitive terhadap perubahan harga, yang ditengarai dengan perubahan IRR yang cukup besar. Oleh karena itu disarankan perlu adanya pemantauan secara rutin dari bank yang memberikan kredit kepada usaha perajin tali dan pengepul.
    Sebagaimana dipahami, pemberian kredit kepada suatu usaha mempunyai resiko di dalam pengembalian kreditnya, karena adanya ketidak pastian di masa depan.
    Semakin lama jangka waktu kredit maka semakin besar resikonya. Semakin singkat jangka waktu kredit semakin kecil resiko yang dihadapi bank. Dalam menentukan jangka waktu kredit, sebaiknya bank tetap memperhatikan kemampuan calon debitur. Karena semakin singkat jangka waktu kredit, maka debitur harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membayar angsuran pokok pinjaman beserta bunganya pada suatu periode tertentu. Untuk itu dengan melihat lamanya periode pengembalian investasi yang disebut dengan Payback Period serta likuiditas keuangan usaha debitur, maka pihak bank bisa memprediksi jangka waktu pengembalian kredit dan bunganya. Dari proyeksi arus kas akan dapat diketahui payback period serta kemungkinan lamanya jangka waktu kredit dari masing-masing usaha sebagai berikut di bawah.
    Tabel 18
    Payback Period

    Jenis Usaha
    Payback Period
    Jangka Waktu Kredit
    Petani
    2 bulan
    6 bulan
    Perajin Tali
    13 bulan
    24 bulan
    Pengepul
    22 bulan
    24 bulan
    Industri Kecil
    34 bulan
    36 bulan
    Eksportir
    28 bulan
    36 bulan
    Setelah memprediksi jangka waktu kredit, langkah selanjutnya perlu memperhatikan likuiditas keuangan yang dapat dilihat dari posisi Kas Akhir pada tahun bersangkutan dalam proyeksi arus kas dengan merubah jangka waktu kredit. Apabila posisi kas akhir tersebut lebih besar dari modal kerja permanen, maka kredit dengan jangka waktu tersebut dapat direalisasikan. Dari simulasi perubahan jangka waktu kredit, maka diperoleh kondisi keuangan setiap usaha sebagai berikut:
    Tabel 19
    Hasil Simulasi Perubahan Jangka Waktu Kredit

    Usaha
    Jk.Waktu Kredit
    Kas Akhir
    Rp000
    Modal Kerja
    Rp000
    IRR
    Petani
    1 th
    5.955
    700
    583%
    Perajin
    2 th
    364
    222
    97,1%
    Pengepul
    2 th
    62.868
    16.930
    50,2%
    Ind.Kecil
    3 th
    477.000
    162.360
    32,5%
    Eksportir
    3 th
    1.832.074
    201.000
    41,5%

    Dari tabel tersebut di atas terlihat, bahwa dengan memperhitungkan jangka waktu kredit diperoleh nilai kas akhir pada tahun bersangkutan ternyata masih lebih besar dari kebutuhan modal kerja permanen. Di samping itu nilai IRR setiap usaha juga lebih besar dari bunga kredit, maka bisa disimpulkan jangka waktu kredit yang diberikan untuk setiap usaha bisa digunakan.

    V. ASPEK SOSIAL EKONOMI & DAMPAK LINGKUNGAN

    Aspek Sosial Ekonomi

    Keberadaan usaha yang memanfaatkan eceng gondok sebagai komoditas menimbulkan efek positif terhadap aspek sosial ekonomi dari masyarakat di sekitar usaha-usaha tersebut.
    Di daerah Rawa Pening yang pada awalnya mata pencaharian penduduknya adalah petani ikan, padi, palawija dan buah-buahan, dengan adanya usaha pemanfaatan eceng gondok, maka pendapatan mereka semakin bertambah. Demikian pula para wanita yang semula hanya sebagai ibu rumahtangga, dengan adanya proyek ini peranannya semakin bertambah yakni mampu memproduksi tali eceng gondok yang menghasilkan tambahan pendapatan.
    Di daerah Kabupaten Bantul, Kabupaten Sukoharjo dan sekitarnya, para pengusaha industri kecil kerajinan maupun industri kecil mebel mampu menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat di sekelilingnya. Secara langsung telah meningkatkan pendapatan masyarakat.
    Para eksportir di Yogyakarta maupun Surakarta merupakan pelaku usaha yang selain mampu menciptakan kesempatan kerja, juga mampu mengajak para industri kecil dan pekerjanya untuk bekerja dengan rajin dan semangat tinggi dalam menciptakan produk yang berkualitas tinggi sesuai permintaan konsumen di mancanegara. Perubahan positif terhadap aspek sosial ekonomi ini akan semakin meningkat apabila pihak perbankan dapat berperan mengembangkan usaha-usaha tersebut baik dalam pemberian kredit yang tepat guna maupun bantuan teknis lainnya.



    Aspek Dampak Lingkungan

    Eceng gondok di berbagai daerah seringkali dianggap sebagai masalah karena menutup saluran irigasi atau pembuangan yang mengakibatkan banjir.
    Penggunaan eceng gondok sebagai bahan baku industri kerajinan dan mebel justru merupakan solusi terhadap masalah tersebut. Dengan memotong batang eceng gondok secara rutin dalam jumlah yang besar, maka pertumbuhan eceng gondok dapat terjaga. Dengan demikian daerah perairan akan terjaga dari bahaya banjir.
    Industri kerajinan maupun mebel yang menggunakan bahan baku dari eceng gondok hanya memanfaatkan kayu dari pohon industri seperti sengon, sungkai yang mudah dibudidayakan dan tidak merusak lingkungan hutan. Di samping itu sisa bahan baku dari industri ini dapat digunakan sebagai bahan bakar.
    Dengan demikian ditinjau dari aspek dampak lingkungan, proyek ini justru berdampak positif.

    VI. PENUTUP

    Kesimpulan

    Sebagai penutup dari analisis terhadap usaha mikro, kecil dan menengah yang menggunakan eceng gondok sebagai komoditas dapat disimpulkan sebagai berikut:
    1. Pelaku usaha yang memanfaatkan eceng gondok sebagai komoditas adalah “petani”, perajin tali, pengepul, industri kecil kerajinan dan mebel serta eksportir kerajinan dan mebel.
    2. Di Jawa Tengah “petani” yang memanen eceng gondok berada di daerah Rawa Pening - Kabupaten Semarang, Kabupaten Purworejo serta Kabupaten Cilacap. Sedangkan industri kecil dan eksportir kerajinan tersebar di Kabupaten Bantul-Yogyakarta. Adapun industri kecil dan eksportir mebel dalam jumlah yang banyak berada di Kabupaten Sukoharjo.
    3. Tanaman eceng gondok dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan tali eceng gondok dalam bentuk klabangan atau kepangan dan juga ditenun. Selanjutnya dimanfaatkan sebagai bahan baku produk kerajinan tangan dan mebel yang kuat dan artistik.
    4. Produk berbahan baku eceng gondok yang terbanyak diminta oleh konsumen dari mancanegara dengan volume permintaan yang cukup banyak. Diperkirakan produk-produk ini masih banyak diminati konsumen mengingat produk sejenis yang berbahan baku rotan sudah semakin terbatas jumlahnya.
    5. Ditinjau dari aspek teknis dan produksi, produk berbahan baku eceng gondok tidak ada kendala yang berarti mengingat kemudahan dalam penyediaan bahan baku. Di samping itu dalam proses produksinya cukup mudah dan dapat dikerjakan oleh perajin tanpa kesulitan.
    6. Ketersediaan bahan baku secara jangka panjang, mendukung kelangsungan usaha ini.
    7. Usaha-usaha yang terkait dengan eceng gondok ini mampu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak.
    8. Dari aspek keuangan, setiap jenis atau tingkat usaha menunjukkan hasil yang layak untuk terus dikembangkan dan dibiayai oleh bank dengan tingkat sukubunga antara 18% s.d 20% pertahun. Kelayakan usaha ini bisa dilihat dari analisis Net Present Value (NPV) yang positif dan Internal Rate of Return (IRR) yang masih di atas tingkat sukubunga kredit bank.
    9. Analisis terhadap aspek sosial, ekonomi dan dampak lingkungan menunjukkan hasil yang positif. Mengingat usaha-usaha ini mampu meningkatkan pendapatan masayarakat di sekelilingnya. Selain itu akan dapat memberikan penghasilan bagi pemerintah daerah dari pajak yang dihasilkan oleh usaha-usaha ini. Dengan pengambilan eceng gondok secara rutin, maka tingkat pertumbuhannya dapat dikendalikan, sehingga tidak akan menjadi pengganggu daerah perairan.


    Saran

    Untuk melengkapi tulisan ini dikemukakan berbagai saran dalam upaya mengembangkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai berikut:
    1. Usaha-usaha yang menggunakan eceng gondok sebagai komoditas harus terus ditumbuh-kembangkan baik oleh pemerintah daerah maupun perbankan. Dengan cara memberikan kemudahan-kemudahan dalam pemberian perijinan serta perkreditan yang memadai.
    2. Upaya mengikutsertakan pelaku usaha dalam pameran-pameran baik di dalam maupun luar negeri sebaiknya terus dilanjutkan agar produk berbahan baku eceng gondok semakin dikenal luas oleh konsumen dan meningkatkan volume permintaan.
    3. Dalam memberikan kesempatan kerja, maka pola hubungan di antara pelaku usaha yang selama ini terjadi, sebaiknya tetap dipertahankan. Harus dijaga agar usaha berskala besar tetap memberikan kesempatan kepada industri kecil, pengpul, perajin dan “petani” menjalankan usahanya tanpa adanya intervensi.
    4. Meskipun demikian, bagi pihak bank yang akan memberikan kredit kepada usaha-usaha ini dianjurkan untuk menciptakan suatu pola kemitraan di antara usaha-usaha tersebut. Pola kemitraan ini dibentuk dengan suatu tujuan untuk memastikan kelanjutan usaha dengan adanya suatu jaminan pasar yang jelas dari usaha di tingkat yang lebih besar.
    5. Pemberian kredit kepada “petani”, perajin tali dan pengepul dapat menggunakan pola “Kredit Kelompok”, di mana Perjanjian Kredit ditandatangani oleh Ketua Kelompok yang diberi kuasa oleh para anggota kelompok. Untuk keamanan kredit, perlu ditegaskan kepada seluruh anggota kelompok adanya jaminan paripasu atau tanggung renteng yang menjadi kewajiban semua anggota. Pihak bank sebaiknya meminta kepastian pasar dari industri kecil berupa order pembelian secara tertulis kepada pengepul.
    6. Pemberian kredit kepada industri kecil dan eksportir sebaiknya disertai dengan suatu Nota Kesepakatan di antara eksportir dengan industri kecil untuk menjamin kelangsungan pasar bagi industri kecil. Nota Kesepakatan tersebut mencakup tentang hak dan kewajiban masing-masing pihak yang saling menguntungkan.